Dodogusmao's Blog

Just another WordPress.com weblog

Budaya dan Gender di Timor Leste

Ditulis Oleh:

Lourenco GUSMAO (Ado)

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

      Pada dasarnya, semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda. Manakala kita melihat karakteristik dari masing-masing secara fisik, kita akan dengan mudah membedakannya. Perbedaan alami yang dikenal dengan perbedaan jenis kelamin sebenarnya hanyalah perbedaan biologis yang dibawa sejak lahir antara perempuan dan laki-laki.

     Seandainya perbedaan itu tidak menjadikan ketidakadilan, tidak menjadikan pertentangan dan tidak ada penekanan dan penindasan satu diantara yang lain, mungkin tidaklah menjadi sebuah masalah. Pada kenyataannya, perbedaan itu telah merambat pada salah satu pihak merasa dan dianggap lebih tinggi derajatnya, lebih berkuasa dan lebih segalahnya dari pihak lain. Hal inilah yang memunculkan adanya ketidak adilan dan ketidak setaraan.

     Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan atau lebih dikenal dengan istilah kesetaraan gender telah menjadi pembicaraan yang hangat di seluruh dunia.

     Melalui perjalanan panjang untuk meyakinkan dunia bahwa perempuan telah mengalami diskriminasi hanya karena perbedaan jenis kelamin dan perbedaan secara social, akhirnya pada tahun 1979, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui konferensi mengenai penghapusan segala jenis diskriminasi terhadap perempuan. Konferensi ini sebenarnya telah diratifikasi oleh pemerintah Timor Leste pada tahun 2002 dalam konstitusi Republik Demokratik Timor Leste pada bagian II hak, kewajiban dan kebebasan asasi yang tertuan pada pasal 17 tentang kesamaan antara perempuan dan laki-laki, yang berbunyi; “Perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam setiap bidang kehidupan keluarga, budaya, social, ekonomi dan politik. Tetapi jarang disosialisasikan dengan baik oleh Negara. Konferensi maupun konstitusi tersebut pada kenyataannya tidak juga sangup menghapus diskriminasi yang dialami oleh perempuan. Diseluruh dunia masih ada perempuan yang mengalami segala bentuk kekerasan (kekerasan fisik, mental, social dan ekonomi) baik dirumah, ditempat kerja maupun di masyarakat.

     Menelusuri garis wewenang dalam pembentukan, dan pelaksanaan peraturan banyak menyingkat hirarki-hirarki social dan bentuk-bentuk kekuasaan dalam kehidupan. Hirarki-hirarki ini dikepalai oleh seorang lelaki atau perempuan yang kuat.

     Patriarki dalam masyarakat diseluruh dunia berkembang, tak terkecuali di Timor Leste. Perlahan dari peran yang dikembangkan dalam kebudayaan pra modern, dimana ukuran fisik dan seluruh system otot para lelaki yang lebih unggul, bersama dengan peran biologis wanita yang melahirkan anak, menghasilkan suatu pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, yang masih berlaku hingga sekarang. Kaum lelaki menjadi penyedia kebutuhan hidup dan pelindung dalam menghadapi dunia luar keluarga itu. Tanggung jawab yang mendalam sedemikian dapat memberikan otonomi dan kesempatan yang relatif besar. Pembagian kerja ini menyebabkan berkembannya peran-peran social yang terbatas bagi kedua jenis kelamin dan terciptanya perbedaan kekuasaan dalam beberapa hal lebih menguntungkan kaum lelaki.

     Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dalam penulisan makalah ini penulis lebih cenderung membahas masalah tentang Budaya dan Gender di Timor Leste.

 

1.2. Perumusan  Masalah

     Masalah yang dirumuskan dalam penulisan makalah ini adalah bagaimana budaya dan gender di Timor Leste?

1.3. Pembatasan Masalah

    Dalam penulisan makalah ini membahas masalah tentang budaya dan gender di Timor Leste

1.4.Tujuan Penulisan Makalah

     Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui masalah tentang budaya dan gender di Timor Leste

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1. Budaya

     Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut Culture, yang berasal dari kata latin Colere yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan sebagai mengolah tanah atau bertani, kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa Indonesia

     Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang dumit, termasuk sistim agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. (Sumber: Wikepedia.org/wiki/Budaya)

     Menurut Edward B. Taylorm, Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggotan masyarakat.

     Menurut Jacob dan B.J.Stern, Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideology, religi dan kesenian serta benda yang kesemuanya merupakan urusan social. (sumber: http://exalute.wordpress.com/2009/03/29/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli/)

 

 2.2. Gender

      Menurut H.T, Wilson (1998), memandang gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan.

     Sedangkan pengertian gender menurut Yanti Muhtar (2002), bahwa gender dapat diartikan sebagai jenis kelamin social atau konotasi masyarakat untuk menentukan peran social berdasarkan jenis kelamin.

     Menurut Mansour Fakir (2008), mendefinisikan gender sebagai suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara social maupun kultural.

     Menurut Suharti (1995), gender berbeda dengan seks. Seks adalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan dilihat secara biologis. Sedangkan gender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan secara social, masalah atau isu yang berkaitan dengan peran, perilaku, tugas, hak dan fungsi yang dibebankan kepada perempuan dan laki-laki. Biasanya isu gender muncul sebagai akibat suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan gender.

     Menurut MCDonald dkk (1999), Istilah gender diperkenalkan untuk mengacu kepada perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki tampa konotasi-konotasi yang sepenuhnya bersifat biologis. Jadi rumusan gender dalam hal ini merujuk pada perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki yang merupakan bentukan social, perbedaan-perbedaan yang tetap  muncul meskipun tidak disebabkan oleh perbedaan-perbedaan biologis yang menyangkut jenis kelamin.

     Dari semua definisi tentang gender yang telah diungkapkan diatas dapat dikatakan bahwa gender merupakan jenis kelamin social yang berbeda dengan jenis kelamin biologis. Dikatakan sebagai jenis kelamin social karena merupakan tuntutan masyarakat yang sudah menjadi budaya dan norma social masyarakat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan dan membedakan antara peran jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1. Budaya dan Gender di Timor Leste

      Jenjang wewenang yang berasal dari perbedaan biologis meluas secara mendalam ke dunia public. Dewasa ini kaum laki-laki mendominasi lembaga-lembaga ekonomi, politik dan keagamaan dimana-mana. Peraturan-peraturan yang diartikulasikan mempengaruhi lingkungan sebagian hanya karena lembaga dan kekuasaan yang mereka wakili tetap ada dan terus beroperasi.

     Di Timor Leste, dilingkungan pemerintahan maupun swasta, perempuan yang telah mempunyai kesempatan menduduki jabatan, belum sebanding dengan laki-laki. Padahal kalau ditengok dari segi jumlah, penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki. Meskipun Timor Leste sudah mempunya menteri wanita, sekretaris Negara wanita dan kepala kabinet dibeberapa kementrian,  anggota parlemen wanita, bahkan perwakilan gender di PBB, namun itu semua masih kelihatan perbedaan yang sangat jauh jumlahnya bila dibandingkan dengan laki-laki yang menduduki jabatan tersebut. Dalam jumlah perempuan mayoritas, ironinya  sebagian besar dari makhluk perempuan ini tidak terlihat. Kesempatan yang diberikan dibidang pendidikan dan peluang untuk menduduki jabatan eksekutif pada umumnya baru dinikmati oleh segelintir perempuan.

     Sebenarnya kita telah mempunyai basis legal yang menjamin hak dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan. Akan tetapi masih banyak kendala budaya dan structural yang membuat perempuan masih menghadapi kesulitan, khususnya dalam hal partisipasinya dalam pengambilan keputusan dan kekuasaan. Dapat dilihat lingkungan dan struktur budaya tidak banyak mendukung terciptanya partisipasi penuh dari perempuan dalam dunia politik maupun dalam mengambil keputusan.

     Dalam budaya Timor Leste, banyak istilah-istilah yang mendudukkan posisi perempuan lebih rendah dari pada laki-laki. Dan istilah-istilah itu sudah tertanam dalam hati masyarakat, sehingga dimaklumi dan diterima begitu saja. Kita ambilkan saja contohnya dalam istilah tetum yang menyebutkan bahwa istri sebagai  “Feto ne’e iha dapur” artinya sebagai pengurus rumah tangga, khususnya urusan anak, memasak, mencuci dan lain-lain…………………………………………………………………………………………………………………

     Untuk mendapatkan isi makalah yang lengkap silakan hubungi Lourenco GUSMAO(Ado) di: lgusmao81@gmail.com

 

 

Mei 25, 2012 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: