Dodogusmao's Blog

Just another WordPress.com weblog

Pengaruh harga produk, perilaku konsumen terhadap keputusan pembeli

Disusun Oleh:

Nama: Lourenço M.A.M. GUSMÃO  (Ado)

Fakultas Ekonomi, Dili Institute of Business (IOB)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang

Dewasa ini globalisasi perekonomian tidak mengenal lagi batas-batas antar Negara yang menyebabkan semua kegiatan berlaku secara cepat dan tepat. Melalui pemasaran, hasil produksi dapat diperkenalkan dan dibeli oleh konsumen.  Apabila hasil produksinya baik dan dapat menimbulkan kepuasan di hati konsumen maka mereka dapat menjadi pelanggan yang setia.

Secara teoritis banyak alternatif yang bisa ditempuh oleh suatu perusahaan dalam rangka mencapai dan meningkatkan volume keputusan yang diambil komsumen untuk membeli produk-produk atau jasa-jasa yang ditawarkan oleh produsen. Dalam fungsi pemasaran, upaya untuk mencapai penjualan yang menguntungkan tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam menguasai pemasaran. Strategi pemasaran tersebut mencakup tiga bagian pokok (Tjiptono, 2000:303) yaitu:

  1. Rencana penempatan produk, dalam hasil penjualan, pasar sasaran serta keuntungan selama beberapa tahun mendatang.
  2. Perincian harga produk, strategi distribusi atau anggaran pemasaran.
  3. Sasaran jangka panjang dalam penjualan, keuntungan serta stategi bauran pemasaran.

Dalam pemasaran biasanya dihadapkan pada masalah produk, harga, distribusi dan promosi. Disamping masalah tersebut biasanya masalah yang lain yaitu tentang keputusan pembelian konsumen. Kegiatan pemasaran bertujuan untuk mempengaruhi konsumen dalam pembelian suatu produk. Dalam melakukan pembelian konsumen membutuhkan informasi tentang produk yang akan dibeli. Salah satunya adalah informasi tentang harga produk.

Ibu-ibu rumah tangga biasanya sangat jeli dalam membeli dan menyeleksi harga produk, mereka lebih menginginkan dengan harga yang relatif terjangkau mendapatkan produk yang berkwalitas apalagi produk yang sudah mempunyai merek. Proses pengambilan keputusan sangat bervariasi, ada yang sederhana dan ada yang sangat kompleks. Pengambilan keputusan tidak hanya berakhir dengan terjadinya transaksi pembelian akan tetapi diikuti pula tahap perilaku pembeli. Berdasarkan uraian diatas maka penulis cenderung  mengambil judul “Pengaruh harga produk, perilaku konsumen terhadap keputusan pembeli”.

1.2.             Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka permasalahan yang ada dalam penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut

  1. Apakah harga produk mempengaruhi keputusan pembeli?
  2. Apakah perilaku konsumen mempengaruhi keputusan pembeli?
  3. Apakah harga produk, perilaku konsumen mempengaruhi keputusan pembeli?

 

1.3.             Pembatasan Masalah

Adapun pembatasan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

  1. Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh harga produk terhadap keputusan pembeli.
  2. Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengarauh perilaku konsumen terhadap keputusan pembeli.
  3. Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh harga produk, perilaku konsumen terhadap keputusan pembeli.

 

1.4.             Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh harga produk terhadap keputusan pembeli.
  2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perilaku konsumen terhadap keputusan pembeli.
  3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh harga produk, perilaku konsumen terhadap keputusan pembeli.

 

1.5.             Manfaat Penelitian

  1. Bagi pihak manajer perusahaan.

Hasil penelitian ini akan dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi pihak perusahaan atau sebagai sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak terkait pada perusahaan.

  1. Bagi akademisi

Hasil penelitian ini akan dijadikan sebagai bahan referensi bagi para mahasiswa berikutnya sekaligus menjadi bahan komparasi untuk penelitian sejenis.

  1. Bagi Penulis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan atau menambah pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas mengenai masalah yang diteliti.

1.6.            Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan mencakup uraian tentang latar belakang masalah, perumusahn masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II menyangkut tinjauan pustaka yang berlandaskan pada berbagai pengertian dari ketiga variable serta pada teori-teori yang masih memiliki hubungan sesuai dengan judul penelitian.

BAB III mengenai metodologi penelitian yang mencakup obyek penelitian, populasi dan sampel, operasional variable, jenis dan sumber data dan teknik pengumpulan data.

BAB IV Penutup adalah mencakup kesimpulan dan saran.

1.7. 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. HARGA

2.1.1. Pengertian Harga

      Lamarto (1963:303) Istilah harga adalah jumlah uang (kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya.

      Kotler dan Amstrong (2001:439) harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk, atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas mamfaat-mamfaat karena memiliki atau menggunakan produk tersebut.

      Alma (1992:79) harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang.

2.1.2. Peranan Harga

      Harga memiliki dua peran utama dalam proses pengambilan keputusan para pembeli yaitu:

  1. Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya. Dengan demikian dengan adanya harga dapat membantu para pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang atau jasa. Pembeli membandingkan harga dari berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang dikehendaki.
  2. Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam mendidik konsumen mengenai faktor-faktor produksi, seperti kualitas. Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi dimana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor produksi atau manfaatynya secara objektif. Persepsi yang sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal mencerminkan kualitas yang tinggi. (Tjiptono, 1997:152)

Dalam menentukan keputusan pembelian, informasi tentang harga sangat dibutuhkan dimana informasi ini akan diperhatikan, dipahami dan makna yang dihasilkan dari informasi harga ini dapat mempengaruhi perilaku konsumen.

2.1.3.      Strategi Penetapan Harga

Penetapan harga harus diarahkan demi tercapainya tujuan.

Sasaran penetapan harga dibagi menjadi tiga (Stanton, 1984:31)

  1. Berorientasi pada laba untuk:
    1. Mencapai target laba investasi atau laba penjualan perusahaan.
    2. Memaksimalkan laba.
  2. Berorientasi pada penjualan untuk:
    1. Meningkatkan penjualan.
    2. Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar.
  3. Berorientasi pada status quo untuk:
    1. Mengstabilkan harga.
    2. Menangkal persaingan.

 

2.2.            Perilaku Konsumen

2.2.1. Pengertian Perilaku Konsumen

Dalam konsep pemasaran telah dinyatakan bahwa kegiatan perusahaan harus dimulai dengan mengenal dan merumuskan keinginan dan kebutuhan konsumennya.

Perilaku konsumen merupakan kegiatan manusia, sehingga bila dibahas perilaku konsumen berarti membahasas kegiatan manusia hanya dalam lingkup yang terbatas. Perilaku konsumen akan selalu berubah-ubah sesuai dengan pengaruh sosial budaya yang semakin meluas, latar belakang sosial yang semakin meningkat sehingga berusaha mencari motivasi dalam diri konsumen.

Ada beberapa pendapat yang mengemukakan perilaku konsumen tersebut adalah sebagai berikut:

Engel (1994:3) mendefinisikan perilaku konsumen adalah sebagai tindakan yang langsung terlibat  dalam mendapatkan atau mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini.

Istilah perilaku tidak hanya menyangkut kegiatan-kegiatan yang tampak jelas atau mudah diamati, tetapi perkembangan sekarang mengakui bahwa kegiatan yang jelas terlihat hanyalah merupakan salah satu bagian proses pengambilan keputusan. Jadi dianalisis perilaku konsumen yang realistis hendaknya menganalisis juga proses-proses yang tidak dapat atau sulit diamati, yang selalu menyertai setiap pembelian.

Swasta (1994:11) pengertian perilaku konsumen sering dikacaukan dengan pengertian perilaku pembelian. Padahal perilaku pembelian itu sendiri mengandung dua pengertian, pertama adalah bila diterapkan pada perilaku konsumen lebih menunjukkan kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang menentukan kegiatan pertukaran itu. Pengertian kedua, mempunyai arti lebih khusus, yaitu perilaku langganan yang sering digunakan sebagai sebutan yang lebih inklusif dibandingkan perilaku konsumen.

2.2.2. Model Perilaku Konsumen

Tujuan pemasaran adalah memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan sasarannya. Namun mengenal pelanggan tidaklah mudah. Para pelanggan mungkin saja menyatakan kebutuhan dan keinginan mereka sedemikian rupa tetapi bertindak sebaliknya

Dibawah ini dijelaskan gambar model menyeluruh perilaku konsumen:

2.2.3.      Faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian oleh Swasta (1997:85) dijelaskan sebagai berikut:

  1. Faktor kebudayaan

Kebudayaan adalah menyangkut  segala aspek kehidupan manusia. Sedang menurut Stanton dalam bukunya Swasta bahwa kebudayaan adalah symbol dan fakta yang diciptakan oleh manusia dalam masyarakat yang ada. Symbol yang bersifat kentara dan tidak kentara. Symbol yang bersifat kentara adalah alat-alat, perumahan, produk, karya seni.

  1. Faktor karya sosial

Kelas sosial dibagi dalam 3 golongan

  1. golongan atas

Yang termasuk dalam golongan atau kelas ini adalah pengusaha-pengusaha kaya, pejabat-pejabat tinggi.

2. Golongan menengah

Yang termasuk dalam golongan atau kelas ini adalah karyawan instansi pemerintah, pengusaha menengah.

3. Golongan bahwa

Yang termasuk dalam golongan atau kelas ini adalah buruh-burh pabrik, pegawai rendah, tukang becak dan pedagang kecil.

  1. Faktor kelompok referensi kecil

Disini interaksi mereka sering dilakukan secara individual, sehingga seseorang mudah terpengaruh oleh orang lain untuk membeli sesuatu.

  1. Faktor Keluarga

Dalam keluarga masing-masing anggota dapat berbuat hal yang berbeda untuk membeli sesuatu. Setiap anggota keluarga memiliki selera dan keinginan yang berbeda. Disini harus diketahui siapa yang mempengaruhi keputusan-keputusan membeli, siapa yang membuat keputusan untuk membeli, siapa yang melakukan pembelian dan siapa yang memakai produknya.

  1. Pengalaman

Pengalaman dapat mempengarui pengamatan seseorang dalam bertingkah laku. Pengalaman dapat diperoleh dari semua perbuatan dimasa lalu atau dapat pula dipelajari, sebab dengan bekerja seseorang dapat memperoleh pengalaman.

  1. Faktor kepribadian

Disini dapat didefinisihkan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk bertingkah laku. Disini dicerminkan aktivitas, minat dan opini pembeli.

  1. Konsep diri

Konsep diri merupakan cara bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri dan pada saat yang sama ini mempunyai gambaran tentang diri orang lain.

2.3.            Keputusan Pembelian

2.3.1. Proses Pengambilan Keputusan

Proses pengambilan keputusan dalam pembelian produk barang dan jasa sangat dipengaruhi oleh perilaku konsumen itu sendiri. Kotler (1997:257) mengemukakan bahwa proses pengambilan keputusan membeli melalui lima tahap yaitu:

  1. Pengenalan masalah

Proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan adanya perbedaan antara keadaan aktual dengan keadaan yang diinginkan.

  1. Pencari informasi

Seorang konsumen yang mulai tergugah minatnya mungkin akan mencari banyak informasi.

Salah satu yang menjadi Perhatian pokok pemasar adalah sumber informasi utama yang dicari konsumen dan perngaruh relatifnya terhadap keputusan pembelian berikutnya.

Sumber-sumber informasi konsumen terdiri dari empat kelompok yaitu:

  1. Sumber pribadi: Keluarga, teman, tetangga dan kenalan.
  2. Sumber komersial: Iklan, wiraniaga, pedagan, perantara, kemasan, pajangan.
  3. Sumber publik: Media masa, organisasi.
  4. Sumber penggalaman: Penangganan, pemeriksaan, penggunakan produk.

Melalui pengumpulan informasi, konsumen mengetahui merek-merek yang bersaing dan keistemewaan masing-masing merek.

  1. Evaluasi alternatif

Tahap ini terdiri dari dua tindakan yaitu menetapkan tujuan pembelian dan menilai serta mengadakan seleksi terhadap alternatif pembelian berdasarkan tujuan pembelian. Setelah tujuan pembelian ditetapkan, konsumen perlu mengidentifikasikan alternatif-alternatif seperti uang, informasi, waktu dan resiko kesalahan dalam memilih.

  1. Keputusan pembelian

Disini konsumen harus memutuskan dari setiap komponen pembelian, apa yang mereka beli, bagaimana membeli atau dimana membeli.

  1. Perilaku purna beli

Setelah membeli produk, konsumen akan merasakan tingkat kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Apabila konsumen merasa puas akan produk tersebut maka konsumen akan melakukan pembelian ulang, dan bahkan menginformasikan kepada pelanggan lain, tetapi apabila konsumen merasa tidak puas dengan produk tersebut maka konsumen akan kecewa dan tidak melakukan pembelian lagi pada produk tersebut.

Proses pengambilan keputusan yang luas merupakan jenis pengambilan keputusan yang paling lengkap, bermula dari pengenalan masalah konsumen yang dapat dipecahkan melalui pembelian beberapa produk. Untuk keperluan ini, konsumen mencari informasi tentang produk atau merek tertentu dan mengevaluasi produk atau merek akan mengarah pada keputusan pembelian. Selanjutnya konsumen akan mengevaluasi dari hasil keputusannya, proses pengambilan keputusan yang luas terjadi untuk kepentingan khusus bagi konsumen atau untuk pemgambilan keputusan yang membutuhkan tingkat keterlibatan tinggi. Tingkat keterlibatan merupakan karakteristik konsumen, bukan karakteristik produk sebagaimana yang sering disalah artikan. Konsumen dikatakan mempunyai tingkat keterlibatan yang tinggi jika dalam membeli suatu produk atau jasa, mereka meluangkan cukup banyak waktu, perhatian dan usaha untuk membandingkan berbagai merek (Tjiptono, 2000:20).

2.3.2. Keputusan Pembelian

            Assuari (1996:130) keputusan pembelian adalah suatu proses pengambilan keputusan atas pembelian yang cukup penentuan apa yang akan dibeli atau tidak melakukan pembelian dan keputusan itu diperoleh dari kegiatan-kegiatan sebelumnya.

            Dalam keputusan pembelian/membeli barang, konsumen ada lebih dari dua pihak yang terlibat dalam proses pertukaran atau pembeliannya. Kegiatan keputusan pembelian meliputi: pilihan akan produk, merek, pemasok, penentuan saat pembelian, jumlah pembelian. Umumnya ada lima macam peranan yang dapat dilakukan seseorang. Ada kalahnya kelima peran ini dipegan satu orang, namun sering kali pula peranan tersebut dilakukan beberapa orang. Pemahaman mengenai masing-masing peranan ini sangat berguna dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Kelima peran tersebut meliputi:

  1. Pemrakarsa (initiator), yaitu orang yang pertama kali menyadari adanya keinginan atau kebutuhan yang belum terpenuhi dan mengusulkan ide untuk membeli satu barang atau jasa tertentu.
  2. Pemberi pengaruh (influencer), yaitu orang yang pandangan, nasihat atau pendapat-pendapatnya mempengaruhi keputusan pembelian.
  3. Pengambil keputusan (decider), yaitu orang yang menentukan keputusan pembelian.
  4. Pembeli (Buyer), yaitu orang yang melakukan pembelian aktual.
  5. Pemakai (user), yaitu orang yang mengkonsumsi atau menggunakan barang atau jasa yang dibeli.

 

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah suatu proses pengambilan keputusan akan pembelian yang mencakup penentuan apa yang akan dibeli atau tidak melakukan pembelian. Dengan indicator; 1. Pilihan produk, 2. Pilihan merek, 3. Pilihan pemasok, 4. Penentuan saat pembelian, 5. Jumlah pembelian.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1.            Obyek Penelitin

Yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah beberapa karyawan yang bekerja pada perusahaan Jerson Group Lda.

3.2.             Populasi dan Sampel

3.2.1.       Populasi

Populasi adalah generalisasi yang terdiri atas obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan sebagai populasi jumlah yang ada pada obyek penelitian (Total karyawan sebanyak 30 orang)

No Distrik Jumlah Populasi
1 Dili

28

2 Viqueque

2

Total

30

 

3.2.2.      Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah yang dimiliki oleh populasi tersebut atau pelanggan yang masih aktif membeli produk sebab sample merupakan yang dapat mewakili dalam jumlah tersebut.

Ukuran sampel dapat diambil berdasarkan rumus:

Dimana:

n: Jumlah sampel

N: Jumlah Populasi

d: Persisi yang ditetapkan

  = 27.90 (dibulatkan) dalam penelitian ini diambil 28 responden.

Jadi berdasarkan rumus diatas dapat diambil sampel dari populasi yang besar sebanyak 28 responden. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode cluster random sampling.

3.3.             Operasional Variabel

3.3.1.      Harga Produk

Sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk, atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas mamfaat-mamfaat karena memiliki atau menggunakan produk tersebut.

3.3.2.      Perilaku Konsumen

Sebagai tindakan yang langsung terlibat  dalam mendapatkan atau mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini.

3.3.3.      Keputusan Pembelian

suatu proses pengambilan keputusan atas pembelian yang merupakan penentuan atas apa yang akan dibeli atau tidak.

3.4.            Jenis dan Sumber Data

Seluruh informasi yang diperlukan dalam penelitian ini dapat melalui dua sumber yaitu data primer dan data sekunder.

3.4.1.      Data Primer

Data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung oleh peneliti dilapangan.

3.4.2.      Data Sekunder

Data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti melalui pihak-pihak tertentu yang berada dilokasi penelitian atau data yang diperoleh peneliti melalui dokumen atau catatan yang tersedia dilokasi penelitian.

3.5.            Teknik Pengumpulan Data

            Teknik pengumpulan data, peneliti menyebarkan kuesioner pertanyaan  kepada pelanggan yang aktif membeli sesuai dengan variabel penelitian untuk dijawab kemudian diolah sesuai dengan tujuan penelitian.

Pengumpulan data yang digunakan adalah kusioner yang terdiri atas serangkaian  pertanyaan tertulis bertujuan untuk memperoleh informasi relevan dengan tujuan penelitian. Kusioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan dengan variabel yang diteliti.

Skala dan criteria yang digunakan dalam setiap pertanyaan adalah sebagai berikut : 

Tabel

Skala nilai

Alternative jawaban

5 Sangat setuju
4 Setuju
3 Ragu-ragu
2 Tidak setuju
1 Sangat tidak setuju

 

3.6. Teknik Analisa Data

3.6.1. Analisis Diskriptif data freuensi tabel

Analisa deskriptif  ini melihat pengolahan untuk ditribusi fekuensi dari masing-masing variabel X1, X2 dan y. Dari analisis distribusi frekuensi itu bisa dilihat berapa banyak responden yang ada.

3.6.2. Analisis Statistik

3.6.2.1. Regresi Berganda

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas, yaitu harga produk, perilaku konsumen terhadap variabel terikat, yaitu keputusan pembeli.

Rumus: Y = a + b1X1 + b2X2

Keterangan:

Y          = Variabel terikat (nilai duga Y)

X1,X2         = Variabel Bebas

a          = Konstanta

 b1, b2   = Koefisien regresi linear berganda

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Karakteristik Responden

Dalam topik ini penyusun atau penulis akan memberikan gambaran mengenai karakteristik responden menurut jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, seperti tampak pada gambar dibawah ini.

Responden Menurut Jenis Kelamin

No

Jenis Kelamin

Frekuensi

Presentase (%)

1

Laki – Laki

20

71.43 %

2

Perempuan

8

28.57 %

 

Total

28

100 %

 

Berdasarkan pada tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah responden laki-laki adalah sebanyak 20 orang dengan persentase 71.43 % sedangkan perempuan sebanyak 8 orang dengan persentase 28.57 %. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah responden yang mendominasi adalah laki-laki.

Responden Menurut Umur

No

Umur

Frekuensi

Presentase (%)

1

25 – 30

18

64.29 %

2

31 – 40

10

35.71 %

 

Total

28

100 %

 

           Berdasarkan pada tabel diatas menunjukan bahwa jumlah responden dengan usia 25-30 adalah sebanyak 18 orang dan persentasenya 64.29 %, usia 31-40 sebanyak 10 orang dengan persentase 35.71 %. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah responden yang mendominasi pada tingkat umur adalah 25-30 tahun

Responden Menurut Tingkat Pendidikan

No

Tingkat pendidikan

Frekuensi

Persentase (%)

1

SMA

25

89.29%

2

D3

3

10.71 %

 

Total

28

100 %

 

           Berdasarkan pada tabel diatas menunjukan bahwa jumlah responden dengan tingkat pendidikan SMA adalah sebanyak 25 orang dengan persentasenya 89.29%, dan D3 sebanyak 3 orang dengan persentase 10.71%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah responden yang mendominasi pada tingkat pendidikan adalah SMA.

4.2. Pembahasan

4.2.1. Analisis Frekuensi Menurut Variabel

         1. Variabel Harga Produk (X1)

Frequencies

Statistics

   

X1.1

X1.2

X1.3

X1.4

X1.5

N Valid

28

28

28

28

28

Missing

0

0

0

0

0

 

Frequency Table

X1.1

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Sangat tidak setuju

1

3.6

3.6

3.6

Tidak setuju

9

32.1

32.1

35.7

Ragu-ragu

6

21.4

21.4

57.1

Setuju

12

42.9

42.9

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 12 orang dengan persentase 42.9%, yang tidak setuju 9 orang dengan persentase 32.1%, yang ragu-ragu 6 orang dengan persentase 21.4% dan yang sangat tidak setuju 1 orang dengan persentase 3.6%

X1.2

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak setuju

12

42.9

42.9

42.9

Ragu-ragu

5

17.9

17.9

60.7

Setuju

11

39.3

39.3

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang tidak setuju 12 orang dengan persentase 42.9%, yang setuju 11 orang dengan persentase 39.3% dan yang ragu-ragu 5 orang dengan persentase 17.9%.

X1.3

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Ragu-ragu

5

17.9

17.9

17.9

Setuju

21

75.0

75.0

92.9

Sangat setuju

2

7.1

7.1

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 21 orang dengan persentase 75%, yang ragu-ragu 5 orang dengan persentase 17.9% dan yang sangat setuju 2 orang dengan persentase 7.1%.

X1.4

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Sangat tidak setuju

1

3.6

3.6

3.6

Tidak setuju

5

17.9

17.9

21.4

Ragu-ragu

15

53.6

53.6

75.0

Setuju

7

25.0

25.0

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang ragu-ragu 15 orang dengan persentase 53.6%, yang setuju 7 orang dengan persentase 25%, yang tidak setuju 5 orang dengan persentase 17.9% dan yang sangat tidak setuju 1 orang dengan persentase 3.6%.

X1.5

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak setuju

1

3.6

3.6

3.6

Ragu-ragu

9

32.1

32.1

35.7

Setuju

15

53.6

53.6

89.3

Sangat setuju

3

10.7

10.7

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 15 orang dengan persentase 53.6%, yang ragu-ragu 9 orang dengan persentase 32.1%, yang sangat tidak setuju 3 orang dengan persentase 10.7%  dan yang tidak setuju 1 orang dengan persentase 3.6%.

  1. 2.      Variabel Perilaku Konsumen (X2)

Frequencies

Statistics

   

X2.1

X2.2

X2.3

X2.4

X2.5

N Valid

28

28

28

28

28

Missing

0

0

0

0

0

 

Frequency Table

X2.1

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Ragu-ragu

12

42.9

42.9

42.9

Setuju

15

53.6

53.6

96.4

Sangat setuju

1

3.6

3.6

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 15 orang dengan persentase 53.6%, yang ragu-ragu 12 orang dengan persentase 42.9% dan yang sangat setuju 1 orang dengan persentase 3.6%.

X2.2

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak setuju

3

10.7

10.7

10.7

Ragu-ragu

11

39.3

39.3

50.0

Setuju

13

46.4

46.4

96.4

Sangat setuju

1

3.6

3.6

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 13 orang dengan persentase 46.4%, yang ragu-ragu 11 orang dengan persentase 39.3%, yang tidak setuju 3 orang dengan persentase 10.7% dan yang sangat setuju 1 orang dengan persentase 3.6%.

X2.3

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak setuju

1

3.6

3.6

3.6

Ragu-ragu

11

39.3

39.3

42.9

Setuju

15

53.6

53.6

96.4

Sangat setuju

1

3.6

3.6

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 15 orang dengan persentase 53.6%, yang ragu-ragu 11 orang dengan persentase 39.3%, yang tidak setuju 1 orang dengan persentase 3.6% dan yang sangat setuju 1 orang dengan persentase 3.6%.

X2.4

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Ragu-ragu

12

42.9

42.9

42.9

Setuju

13

46.4

46.4

89.3

Sangat setuju

3

10.7

10.7

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 13 orang dengan persentase 46.4%, yang ragu-ragu 12 orang dengan persentase 42.9% dan yang sangat setuju 3 orang dengan persentase 10.7%.

X2.5

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Ragu-ragu

5

17.9

17.9

17.9

Setuju

19

67.9

67.9

85.7

Sangat setuju

4

14.3

14.3

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 19 orang dengan persentase 67.9%, yang ragu-ragu 5 orang dengan persentase 17.9% dan yang sangat setuju 4 orang dengan persentase 14.3%.

  1. 3.      Variabel Keputusan Pembeli (Y)

Frequencies

Statistics

   

Y.1

Y.2

Y.3

Y.4

Y.5

N Valid

28

28

28

28

28

Missing

0

0

0

0

0

 

Frequency Table

Y.1

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak setuju

1

3.6

3.6

3.6

Ragu-ragu

8

28.6

28.6

32.1

Setuju

14

50.0

50.0

82.1

Sangat setuju

5

17.9

17.9

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 14 orang dengan persentase 50%, yang ragu-ragu 8 orang dengan persentase 28.6%, yang sangat setuju 5 orang 17.9% dan yang tidak setuju 1 orang dengan persentase 3.6%.

Y.2

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak setuju

8

28.6

28.6

28.6

Ragu-ragu

8

28.6

28.6

57.1

Setuju

12

42.9

42.9

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 12 orang dengan persentase 42.9%, yang ragu-ragu 8 orang dengan persentase 28.6% dan yang tidak setuju 8 orang dengan persentase 28.6%.

 

Y.3

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Ragu-ragu

6

21.4

21.4

21.4

Setuju

21

75.0

75.0

96.4

Sangat setuju

1

3.6

3.6

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 21 orang dengan persentase 75%, yang ragu-ragu 6 orang dengan persentase 21.4% dan yang sangat setuju 1 orang dengan persentase 3.6%.

Y.4

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Ragu-ragu

12

42.9

42.9

42.9

Setuju

13

46.4

46.4

89.3

Sangat setuju

3

10.7

10.7

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 13 orang dengan persentase 46.4%, yang ragu-ragu 12 orang dengan persentase 42.9% dan yang sangat setuju 3 orang dengan persentase 10.7%.

Y.5

   

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Ragu-ragu

7

25.0

25.0

25.0

Setuju

16

57.1

57.1

82.1

Sangat setuju

5

17.9

17.9

100.0

Total

28

100.0

100.0

 

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa yang setuju 16 orang dengan persentase 57.1%, yang ragu-ragu 7 orang dengan persentase 25% dan yang sangat setuju 5 orang dengan persentase 17.9%.

4.2.2. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

1. Variabel Harga (X1)

COMPUTE TotalX1=Sum(X1.1 to X1.5).

EXECUTE.

FREQUENCIES VARIABLES=X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5

  /ORDER=ANALYSIS.

CORRELATIONS

  /VARIABLES=X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 TotalX1

  /PRINT=TWOTAIL NOSIG

  /MISSING=PAIRWISE.

Correlations

 

Correlations

   

X1.1

X1.2

X1.3

X1.4

X1.5

TotalX1

X1.1 Pearson Correlation

1

.461*

-.147

.350

-.039

.697**

Sig. (2-tailed)  

.014

.457

.068

.845

.000

N

28

28

28

28

28

28

X1.2 Pearson Correlation

.461*

1

-.009

.261

-.072

.676**

Sig. (2-tailed)

.014

 

.965

.180

.714

.000

N

28

28

28

28

28

28

X1.3 Pearson Correlation

-.147

-.009

1

.097

.015

.194

Sig. (2-tailed)

.457

.965

 

.624

.940

.322

N

28

28

28

28

28

28

X1.4 Pearson Correlation

.350

.261

.097

1

.338

.732**

Sig. (2-tailed)

.068

.180

.624

 

.079

.000

N

28

28

28

28

28

28

X1.5 Pearson Correlation

-.039

-.072

.015

.338

1

.392*

Sig. (2-tailed)

.845

.714

.940

.079

 

.039

N

28

28

28

28

28

28

TotalX1 Pearson Correlation

.697**

.676**

.194

.732**

.392*

1

Sig. (2-tailed)

.000

.000

.322

.000

.039

 
N

28

28

28

28

28

28

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).      
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).      

 

RELIABILITY

  /VARIABLES=X1.1 X1.2 X1.4 X1.5

  /SCALE(‘ALL VARIABLES’) ALL

  /MODEL=ALPHA

  /SUMMARY=TOTAL.


 

 

Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary

   

N

%

Cases Valid

28

100.0

Excludeda

0

.0

Total

28

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

 

Cronbach’s Alpha

N of Items

 

.535

4

 
           

 

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach’s Alpha if Item Deleted

X1.1

9.68

2.597

.414

.373

X1.2

9.75

2.861

.350

.438

X1.4

9.71

2.952

.476

.340

X1.5

9.00

4.074

.077

.628

 

  1. 2.      Variabel Perilaku Konsumen (X2)

 

COMPUTE TotalX2=Sum(X2.1 TO X2.5).

EXECUTE.

FREQUENCIES VARIABLES=X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5

                 /ORDER=ANALYSIS.

CORRELATIONS

  /VARIABLES=X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 TotalX2

  /PRINT=TWOTAIL NOSIG

  /MISSING=PAIRWISE.

 

Correlations

Correlations

   

X2.1

X2.2

X2.3

X2.4

X2.5

TotalX2

X2.1 Pearson Correlation

1

.503**

.545**

.143

.296

.758**

Sig. (2-tailed)  

.006

.003

.468

.127

.000

N

28

28

28

28

28

28

X2.2 Pearson Correlation

.503**

1

.484**

.138

-.223

.634**

Sig. (2-tailed)

.006

 

.009

.482

.254

.000

N

28

28

28

28

28

28

X2.3 Pearson Correlation

.545**

.484**

1

.274

.058

.741**

Sig. (2-tailed)

.003

.009

 

.158

.770

.000

N

28

28

28

28

28

28

X2.4 Pearson Correlation

.143

.138

.274

1

.449*

.628**

Sig. (2-tailed)

.468

.482

.158

 

.017

.000

N

28

28

28

28

28

28

X2.5 Pearson Correlation

.296

-.223

.058

.449*

1

.447*

Sig. (2-tailed)

.127

.254

.770

.017

 

.017

N

28

28

28

28

28

28

TotalX2 Pearson Correlation

.758**

.634**

.741**

.628**

.447*

1

Sig. (2-tailed)

.000

.000

.000

.000

.017

 
N

28

28

28

28

28

28

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).      
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).      

 

RELIABILITY

  /VARIABLES=X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5

  /SCALE(‘ALL VARIABLES’) ALL

  /MODEL=ALPHA

  /SUMMARY=TOTAL.

Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary

   

N

%

Cases Valid

28

100.0

Excludeda

0

.0

Total

28

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

 

Cronbach’s Alpha

N of Items

 

.638

5

 
           

 

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach’s Alpha if Item Deleted

X2.1

14.64

2.757

.593

.495

X2.2

14.82

2.819

.331

.622

X2.3

14.68

2.671

.541

.509

X2.4

14.57

2.921

.361

.600

X2.5

14.29

3.471

.182

.672

 

  1. 3.      Variabel Keputusan Pembeli (Y)

COMPUTE TotalY=Sum(Y.1 TO Y.5).

EXECUTE.

FREQUENCIES VARIABLES=Y.1 Y.2 Y.3 Y.4 Y.5

  /ORDER=ANALYSIS.

CORRELATIONS

  /VARIABLES=Y.1 Y.2 Y.3 Y.4 Y.5 TotalY

  /PRINT=TWOTAIL NOSIG

  /MISSING=PAIRWISE.

 


 

Correlations

Correlations

   

Y.1

Y.2

Y.3

Y.4

Y.5

TotalY

Y.1 Pearson Correlation

1

.549**

.616**

.315

.191

.824**

Sig. (2-tailed)  

.002

.000

.103

.330

.000

N

28

28

28

28

28

28

Y.2 Pearson Correlation

.549**

1

.341

.149

-.047

.663**

Sig. (2-tailed)

.002

 

.076

.449

.812

.000

N

28

28

28

28

28

28

Y.3 Pearson Correlation

.616**

.341

1

.395*

-.042

.652**

Sig. (2-tailed)

.000

.076

 

.038

.832

.000

N

28

28

28

28

28

28

Y.4 Pearson Correlation

.315

.149

.395*

1

.447*

.672**

Sig. (2-tailed)

.103

.449

.038

 

.017

.000

N

28

28

28

28

28

28

Y.5 Pearson Correlation

.191

-.047

-.042

.447*

1

.463*

Sig. (2-tailed)

.330

.812

.832

.017

 

.013

N

28

28

28

28

28

28

TotalY Pearson Correlation

.824**

.663**

.652**

.672**

.463*

1

Sig. (2-tailed)

.000

.000

.000

.000

.013

 
N

28

28

28

28

28

28

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).      
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).      

 

RELIABILITY

  /VARIABLES=Y.1 Y.2 Y.3 Y.4 Y.5

  /SCALE(‘ALL VARIABLES’) ALL

  /MODEL=ALPHA

  /SUMMARY=TOTAL.


 

Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary

   

N

%

Cases Valid

28

100.0

Excludeda

0

.0

Total

28

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

 

Cronbach’s Alpha

N of Items

 

.659

5

 
           

                                            

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach’s Alpha if Item Deleted

Y.1

14.57

2.847

.650

.475

Y.2

15.25

3.306

.360

.643

Y.3

14.57

3.958

.503

.591

Y.4

14.71

3.545

.453

.588

Y.5

14.46

4.184

.189

.699

 

Keterangan:

Dalam uji validitas ditemukan bahwa pada variabel X1 (harga produk)  ada satu butir angket atau satu variabel indikator yang tidak valid yaitu Variabel indikator X1.3 dan  variabel indikator tersebut tidak diikutsertakan dalam uji reliabilitas karena hubungan korelasinya berada pada level 0.322, sedangkan level korelasi yang seharusnya dikatakan signifikan adalah pada level 0.01 hingga 0.05. Dan selain dari variabel tersebut adalah valid karena berada pada level korelasi yang signifikan.

4.2.3. Analisis Linear Berganda

Persamaan regresi linear berganda ini digunakan untuk mengestimasikan atau memberi ramalan pada variabel bebas X1 (Harga produk) dan X2 (perilaku konsumen) terhadap variabel terikat Y (keputusan pembeli), apakah ada pengaruh yang signifikan atau tidak dari variabel bebas terhadap variabel terikat

Berdasarkan hasil perhitugan Regresi Linear Berganda yang diperoleh melalui program SPSS (Statistic Product and Service Solution) bahwa hasil dari persamaan Regresi Linear Berganda untuk variabel X1 (harga prduk), X2 (perilaku konsumen) dan Y (keputusan pembeli) adalah sebagai berikut:

Ringkasan Analisis Regresi  antara variabel Harga produk, Perilaku Konsumen dengan Keputusan Pembeli

Model  

Sum of Squares

Df

Mean Square

F

Sig.

1 Regression

78,517

2

39,258

16,31485.963

.000(a)

  Residual

60,162

25

2,406

 

 

  Total

138,679

27

 

 

 

Thitung1    : 2.309Thitung2   : 4.544

Ttabel       : 2,055

a           : 0.694

X1        : 0,317

X2         : 0,681R           : 0,752

R2         : 0,566

Fhitung    : 16,314

Ftabel        : 3,385

               

 

4.2.4. Koefisien Regresi Linear Berganda

         Dari tabel diatas diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

                     = 0.694  0,317  0,681

            Artinya nilai X1 dan X2 sebesar 0.317 dan 0.681 sedangkan variabel konstanta untuk nilai keputusan pembeli (Y) sebesar 0.694 dan hubungan antara variabel X1 dan X2 terhadap variabel Y meningkat sebesar satu-satuan maka keputusan pembeli akan menurun sebesar 0.694.

4.2.5. Koefisien Determinasi Berganda

            Digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel bebas (X1,X2) dengan variabel terikat (Y).

            Dari tabel diatas menunjukan bahwa nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.752 atau 75.2% artinya bahwa variabel X1 (harga produk) dan variabel X2 (perilaku konsumen) mempunyai hubungan yang kuat dengan variabel Y (keputusan pembeli).  Koefisien determinasi R2 sebesar 0.566 atau 56.6%  artinya sumbangan antara variabel X1 (harga produk) dan variabel X2 (perilaku konsumen) yang diberikan kepada variabel Y (keputusan pembeli) sebesar 56.6% sedangkan sisanya 43.4% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ikut diteliti.

Interpretrasi Koefisien korelasi Parsial

Interval Koefisien

Tingkat Hubungan

0.00 – 0.199

Sangat rendah

0.20 -0.399

Rendah

0.40 – 0.599

Sedang

0.60 – 0.799

Kuat

0.80 – 100

Sangat kuat

 

4.2.6. Pengujian Hipotesis untuk thitung 1

            Uji t, analisis ini digunakan untuk mengukur atau menguji apakah ada atau tidaknya pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependent secara pervariabel atau secara individu yaitu  antara variabel X1 (harga produk) terhadap variabel Y (keputusan pembeli)

Ho : b = 0  artinya tidak ada pengaruh dari harga produk (X1) terhadap keputusan pembeli (Y)

Ho : b≠ 0 artinya ada pengaruh dari harga produk (X1) terhadap keputusan pembeli (Y)

            Berdasarkan dari hasil perhitungan SPSS (Statistic Product and Service Solution) pada tabel diatas dapat diperoleh nilai thitung1 sebesar 2.309 dan nilai ttabel sebesar 2.055 maka dapat disimpulkan bahwa thitung1 lebih besar dari ttabel  (thitung1  > ttabel) artinya bahwa variabel X1 (harga produk) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Y (keputusan pembeli), karena nilai dari thitung1  lebih besar dari pada ttabel  atau thitung1  (2.309) > ttabel (2.055) artinya Ho diterima atau Ho : b1 ≠ 0 (ada pengaruh dari X1 terhadap Y). 

Jika thitung1 ≥ ttabel maka Ho ditolak artinya harga produk  signifikan berpengaruh terhadap keputusan pembeli.

Jika thitung ≤ ttabel maka Ho diterima artinya harga produk tidak signifikan berpengaruh terhadap keputusan pembeli.

  Pengujian hipotesis untuk thitung1

Daerah penolakan Ho

2,5%

2,055

2.055

0

Daerah penolakan Ho

2,5%

  2.309

Daerah penerimaan Ho

95%

-2.309

 

4.2.7. Pengujian Hipotesis untuk thitung 2

            Uji thitung2,  analisis ini digunakan untuk mengukur atau menguji apakah ada atau tidaknya pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependent secara pervariabel atau secara individu yaitu antara variabel X2 (perilaku konsumen) terhadap variabel Y (keputusan pembeli)

Ho : b = 0 artinya tidak ada pengaruh dari perilaku konsumen (X2) terhadap keputusan pembeli (Y)

Ho : b≠ 0 artinya ada pengaruh dari perilaku konsumen (X2) terhadap keputusan pembeli (Y)

            Berdasarkan dari hasil perhitungan SPSS (Statistic Product and Service Solution) pada tabel diatas dapat diperoleh nilai thitung2 sebesar 4.544 dan nilai ttabel sebesar 2,055 maka dapat disimpulkan bahwa thitung2 lebih besar dari ttabel  (thitung2  > ttabel) artinya bahwa variabel X2 (perilaku konsumen) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Y (keputusan pembeli), karena nilai dari thitung2  lebih besar dari pada ttabel  atau thitung1  (4.544) > ttabel (2,055) artinya Ho diterima atau Ho : b1 ≠ 0 (ada pengaruh dari X2 terhadap Y).

            Jika thitung2 ≥ ttabel maka Ho ditolak artinya perilaku konsumen signifikan berpengaruh terhadap keputusan pembeli.

Jika thitung2 ≤ ttabel maka Ho diterima artinya perilaku konsumen tidak signifikan berpengaruh terhadap keputusan pembeli.

Pengujian hipotesis untuk thitung2

2,055

2,055

0

Daerah penolakan Ho

2,5%

Daerah penolakan Ho

2,5%

   4.544

Daerah penerimaan Ho

95%

-4.544

 

 

 

4.2.8. Pengujian Hipotesis untuk Fhitung

            Pengujian hipotesis F digunakan untuk mengukur pengaruh dari variabel bebas X1 dan X2 terhadap variabel terikat Y secara bersama – sama maka untuk membuktikan kebenaranya maka dapat dilihat pada hasil dibawah ini :

            Berdasarkan pada hasil perhitungan secara SPSS (Statistic Product and Service Solution) dapat diperoleh nilai Fhitung sebesar 16.314  dan nilai Ftabel sebesar 3.385.  Dari hasil tersebut dapat diasumsikan bahwa nilai dari Fhitung  > Ftabel atau 16.314 > 3.385 dengan derajat kebebasan (n – 3) artinya bahwa variabel X1 (harga produk) dan variabel X2 (perilaku konsumen) secara simultan atau secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap varibel Y (keputusan pembeli) karena  nilai dari Fhitung > F table, maka Ho : b1 ≠ 0 (ada pengaruh dari X1 dan X2 terhadap (Y). 

 

Pengujian Hipotesis Untuk Fhitung

Daerah penolakan H0

5%

Daerah penerimaan H0

95%

16.314

 

 


 

BAB V

PENUTUP

4.1. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ada pengaruh yang signifikan antara harga produk, perilaku konsumen terhadap keputusan pembeli.
  2. Berdasarkan hasil perhitungan SPSS (Statisctic Product and Service Solution) diperoleh nilai regresi linear berganda sebagai berikut:  = 0.694  0,317  0,681
  3. Pengujian hipotesis untuk thitung1. Berdasarkan dari hasil perhitungan SPSS (Statistic Product and Service Solution) dapat diperoleh nilai thitung1 sebesar 2.309  dan  nilai ttabel sebesar 2.055 maka dapat disimpulkan bahwa thitung1 lebih besar dari ttabel  (thitung1  >  ttabel) pada derajat kebebasan n – k (28 – 2) artinya bahwa variabel X1 (harga produk) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Y (keputusan pembeli),  karena nilai dari thitung1  lebih besar dari pada ttabel atau thitung1 (2.309) > ttabel (2.055).
  4. Pengujian hipotesis untuk thitung2. Berdasarkan dari hasil perhitungan SPSS (Statistic Product and Service Solution) dapat diperoleh nilai thitung2 sebesar 4.544 dan  nilai ttabel sebesar 2,055 maka dapat disimpulkan bahwa thitung1 lebih besar dari ttabel  (thitung2  >  ttabel) pada derajat kebebasan n – k  (28 – 2) artinya bahwa variabel X2 (perilaku konsumen) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Y (keputusan pembeli), karena nilai dari thitung2  lebih besar dari pada ttabel atau thitung (4.544) > ttabel (2.055).
  5. Berdasarkan  pada hasil perhitungan secara SPSS (Statistic Product and Service Solution) dapat diperoleh nilai Fhitung sebesar 16.314 dan nilai Ftabel sebesar 3.385. Dari hasil tersebut dapat diasumsikan bahwa nilai dari Fhitung  > Ftabel atau 16.314 > 3.385 dengan derajat kebebasan (n – 3) artinya bahwa variabel X1 (harga produk) dan variabel X2 (perilaku konsumen) secara simultan atau bersama-sama berpengaruh positif terhadap varibel Y (keputusan pembeli) karena nilai dari Fhitung > Ftabel maka Ho : b1 ≠ 0 (ada pengaruh dari X1 dan X2  terhadap Y).   

 

4.2. SARAN

Berdasarkan hasil pembahasan diatas maka disarankan:

  1. Perusahaan hendaknya menyesuaikan harga dengan kualitas produk agar konsumen merasa puas dengan produk yang dikonsumsinya.
  2. Sebelum melakukan pembelian, konsumen hendaknya lebih berhati-hati dalam memilih produk, jangan hanya tertarik dengan harga yang ditawarkan akan tetapi hendaknya mempertimbangkan juga kualitas dan mamfaat yang diperoleh dari produk tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alma, Buchari, 1992, Manajemen pemasaran dan pemasaran jasa,         Bandung:AlfaBeta

Kotler, Philip, 1994, Manajemen Pemasaran, Bandung: Erlangga

Swasta Basu, 1997, Manajemen Pemasaran Modern, Yogyakarta: BPFE    

Engel James F, et. Diterjemahkan Budiyanto FX.1994. Perilaku Konsumen Binangun Aksara.

Iklan

Mei 27, 2011 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Peranan SDA dan SDM terhadap Pembangunan Ekonomi

Disusu Oleh:

                                                               Lourenço M.A.M. GUSMÃO  (Ado)

                                           FAKULTAS EKONOMI, INSTITUTE OF BUSINESS DILI TIMOR LESTE

 

KATA PENGANTAR

 

Adalah kewajiban bagi setiap insang untuk dapat mensyukuri karunia Tuhan karena kebesarannyalah penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini, dalam penulisan makalah ini penulis banyak merepotkan berbagai pihak baik dalam binbingan, bantuan moril, maupun espiritual, untuk itu penuilis menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Gregorio selaku dosen pengasuh mata kuliah Ekonomi Pembangunan.

Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang turut memberikan kontribusinya dalam pelaksanaan penulisan makalah ini, kepada semua pihak tidak ada yang layak untuk membalas budi baik yang telah diberikan hanyalah doa kiranya Maha pengasih memberikan berkat dan rahmat yang berkelimpahan.

Penulisan makalah ini merupakan hasil maksimal dari penulis namun masih terdapat banyak kekurangan dan untuk penyempurnaanya penulis mengharapkan saran maupun kritikan yang konstruktif.

                                                                                                                        Dili, 2011

                                                                                                                        Penulis,

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pembangunan suatu bangsa memerlukan aspek pokok yang disebut dengan sumber daya (resources) baik sumber daya alam atau natural resources maupun sumber daya manusia atau human resources. Kedua sumber daya ini sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu pembangunan. Sejarah menunjukkan masyarakat bisa mencapai kemakmuran karena berhasil memamfaatkan sumber daya yang dimiliki.

Pada dasarnya sumber daya alam merupakan asset  yang dimiliki suatu Negara yang meliputi tanah dan kekayaan alam seperti kesuburan tanah, keadaan iklim atau cuaca, hasil hutan, tambang dan hasil laut yang  sangat mempengaruhi pertumbuhan industri suatu Negara, terutama dalam hal penyediaan bahan baku produksi.  Dengan adanya sumber daya alam yang melimpah dan berpotensi tinggi sangat mendukung pembangunan ekonomi suatu Negara. Pembangunan ekonomi adalah usaha – usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang sering kali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riel perkapita.

Namun sumber daya alam yang ada tersebut tidak sendirinya diolah olah alam akan tetapi perlu adanya sumber daya manusia, guna mengolah sumber daya alam tersebut. Keahlian dan kewirausahaan dibutuhkan untuk mengolah bahan mentah dari alam, menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih tinggi atau disebut juga sebagai proses produksi.

Sumber daya manusia adalah yang terpenting, karena jika sebuah Negara memiliki suatu SDM yang terampil dan berkualitas maka ia akan mampu mengolah SDA yang jumlahnya terbatas.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis cenderung untuk membahas masalah peranan sumber daya alam dan sumber daya manusia terhadap pembangunan ekonomi.

1.2. Perumusan Masalah

Adapun masalah yang dirumuskan dalam penulisan makalah ini yakni seberapa besar  peranan SDA dan SDM terhadap pembangunan ekonomi.

1.3.Pembatasan Masalah

Dalam penulisan makalah ini hanya membahas masalah yang berkaitan dengan peranan SDA dan SDM terhadap pembangunan ekonomi.

1.4.Tujuan

Dalam penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peranan SDA dan SDM terhadap pembangunan ekonomi.

1.5.Mamfaat

Mamfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan mahasiswa/i tentang pentingnya peranan SDA dan SDM terhadap pembangunan ekonomi di suatu Negara.

1.6.Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan meliputi: latar belakang, perumusan masalah, pembatasan, tujuan, mamfaat dan sistematika penulisan

BAB II Menguraikan teori yang berhubungan dengan SDA, SDM dan Pembangunan Ekonomi.

BAB III Menguraikan pembahasan atas peranan SDA dan SDM terhadap pembangunan ekonomi

BAB VI Penutup meliputi: Kesimpulan dan saran

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Dalam bab ini akan menguraikan pandagan teoritis mengenai sumber daya alam, sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi.

2.1. Pengertian Sumber Daya Alam

Sumber daya alam ialah suatu sumber daya yang terbentuk karena kekuatan alamiah, misalnya tanah, air dan perairan, udara dan ruang, mineral tentang alam, panas bumi dan gas bumi, angin, pasang surut/arus laut (Daryanto 1995:36).

Menurut Nursid sumaatmadja (1981:211 – 213) mengelompokkan sumber daya alam menjadi tiga golongan antara lain:

  1. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui

Pengertian sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui berarti sumber daya yang tidak dapat dipulihkan kembali setelah digunakan, atau jika dipulihkan kembali tidak menguntungkan karena biaya pemulihan lebih besar daripada hasil pemulihannya. Yang termasuk sumber daya yang tidak dapat dipulihkan kembali yaitu mineral bahan bakar atau bahan bakar fosil (fosil fuel) dan logam. Mineral bahan bakar yaitu minyak dan gas bumi.

  1. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui

Sumber daya alam yang dapat diperbaharui atau dapat pulih kembali yaitu sumber daya yang dapat pulih kembali secara alamiah ataupun secara budaya setelah dimanfaatkan. Sumber daya ini termasuk sumber daya nabati dan hewani dan energy yang dihasilkan oleh proses tenaga alam (air, angin, pasang surut, sinar panas matahari). Sumber daya ini dalam jangka waktu tertentu dapat pulih kembali.

  1. Sumber daya alam yang tidak akan habis

Sumber daya yang tidak akan berakhir yaitu keindahan panorama yang berharga bagi kepariwisataan dan faedah – faedah yang diperoleh dari iklim.

Menurut Sukanto Reksodiprodjo (1990:5), Sumber daya alam adalah sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai didalam kondisi dimana kita menemukannya. Sumber daya alam meliputi semua yang terdapat dibumi baik yang hidup maupun benda mati yang berguna bagi manusia, terbatas jumlahnya dan pengusahaannya memenuhi kriteria – kriteria teknologi, ekonomi, social dan lingkungan.

2.2. Definisi Sumber Daya Manusia

Menurut Gomes (1997), Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang terdapat dalam suatu organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas. Dalam suatu organisasi perlu adanya suatu manajemen yang mengelola sumber daya manusia yang ada untuk mencapai tujuan organisasi. Mathis dan Jackson (2006) mengartikan manajemen sumber daya manusia sebagai rancangan sistem – sistem formal dalam sebuah organisasi untuk memastikan penggunaan bakat manusia secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan – tujuan organisasional. Tugas manajemen sumber daya manusia adalah untuk mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh tenaga kerja yang puas akan pekerjaannya.

Menurut Werther dan Davis yang dikutip oleh Edy Sutrisno menyatakan bahwa sumber daya manusia adalah pegawai yang siap, mampu dan siaga dalam mencapi tujuan – tujuan organisasi (Werther dan Davis dalam Sutrisno, 2009:1)

Menurut Hadari Nawami yang dikutip oleh Ambar Teguh Sulistiyani dan Rosidah yang dimaksudkan sebagai sumber daya manusia meliputi tiga pengertian yaitu

  1. Sumber daya manusia adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenaga kerja, pegawai atau karyawan)
  2. Sumber daya manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya.
  3. Sumber daya manisia adalah potensi yang merupakan asset dan berfungsi sebagai modal (non material/nonfinansial) didalam organisasi bisnis, yang dapat diwujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensinya. (Nawami dalam Sulistiyani dan Rosidah, 2003:9)

Selain definisi Sumber daya manusia diatas Faustino Cardoso Gomes (2003:1) menyebutkan bahwa: Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang terdapat dalam organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas

2.3. Pembangunan Ekonomi

2.3.1. Arti Pembangunan Ekonomi

Menurut Lincolin Arsyad (1993:4), Pembangunan ekonomi adalah kegiatan – kegiatan yang dilakukan suatu Negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya.  Dengan batasan tersebut, maka pembangunan ekonomi pada umumnya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu Negara meningkat dalam jangka panjang. Dari batasan dan defenisi tersebut dapat diperoleh pengertian bahwa pembangunan ekonomi adalah

  1. Suatu proses, yang berarti perubahan secara terus menerus
  2. Usaha untuk menaikkan pendapatan perkapita.
  3. Kenaikan pendapatan perkapita yang berlangsung dalam jangka panjang.

Definisi pembangunan ekonomi menurut Maier adalah suatu proses dimana pendapatan perkapita suatu Negara meningkat selama kurun waktu yang panjang. Dengan catatan bahwa; jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan absolut tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semaking timpang (Maier dalam Mudrajad Kuncoro, 1997:17)

Menurut Suparmoko, pembangunan atau perkembangan ekonomi adalah kegiatan yang menunjukkan perubahan – perubahan dalam struktur output dan alokasi imput pada berbagai sector perekonomian, disamping kenaikan output. (Irawan dan M. suparmoko, 1987:5)

2.3.2. Tujuan Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi menurut Maier bertujuan untuk membangun identitas nasional atau kepribadian bangsa. Adapun cara untuk mencapai tujuan ini sangat dipengaruhi pandagan hidup bangsa tersebut dalam upaya menaikkan output nasional dan pendapatan masyarakat. (Maier dalam Mudrajad Kuncoro, 1997:17)

Irawan dan Suparmoko mengartikan pembangunan ekonomi sebagai usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang diukur melalui tinggi rendahya pendapatan perkapita. Jadi tujuan pembangunan ekonomi disamping meningkatkan pendapatan nasional riil, juga meningkatkan produktivitas ( Irawan dan M. Suparmoko, 1987:7)

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1.                      Peranan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Terhadap Pembangunan Ekonomi

Selain Faktor modal dan kemajuan teknologi  adapun faktor sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi suatu Negara. Sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu Negara merupakan anugerah yang perlu disyukuri, sebab tidak semua Negara memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan lengkap. Sumber daya alam seperti hutan dengan segala isinya, hasil pertambangan sudah sewajarnya digunakan untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakatnya. Dalam konsep pembangunan yang berkelanjutan, sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomis tinggi hendaknya tidak dieksploitasi. Sebab keberadaannya perlu dipikirkan untuk generasi yang akan datang. Jangan sampai hasil hutan dijarah habis sehingga mengakibatkan hutan gundul dan pada gilirannya dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu pengelolaan sumber daya alam haruslah dilakukan secara bertanggung jawab. Artinya harus dilakukan secara bijaksana untuk melestarikan persediaan sumber daya alam tersebut, sehingga generasi sekarang dan mendatang dapat menikmatinya. Pengelolaan sumber daya alam haruslah sedemikian rupa, sehingga sumber daya alam itu selalu dapat ditingkatkan persediaannya melalui usaha eksplorasi dan eksploitasi, peningkatan efisiensi proses produksi serta dengan bantuan teknologi untuk dapat meningkatkan proses daur ulang. Berdasarkan hal tersebut diatas, dalam pengelolaan sumber daya alam diperlukan suatu kebijakan yang bertanggung jawab.

Penduduk, masyarakat atau istilahnya sumber daya manusia merupakan aset penting dalam pembangunan mengingat penduduk sebagai agent of development, sehingga tidaklah berlebihan bila dikatakan berhasil tidaknya pembangunan ditentukan oleh sikap penduduk selama proses pembangunan berlangsung.

Sumber daya manusia sebagai agent of development, pelaksana dan penentu berhasil tidaknya pembangunan. Sumber daya manusia merupakan faktor produksi dalam proses pembangunan, sehingga bentuk dan sistem yang ada merupakan produk dari sumber daya manusia yang dimiliki. Sumber daya manusia yang handal merupakan asset dalam pembangunan. Permasalahan muncul apabila sumber daya manusia yang dimiliki sangat terbatas dengan kualitas yang sangat rendah. Di Negara sedang berkembang pada umumnya sumber daya manusia yang dimiliki melimpah dengan kualitas yang rendah. Dengan kondisi seperti ini jelas sangat menghambat proses pembangunan. Oleh karena itu perlu adanya manajemen sumber daya manusia yang baik.  Manusia merupakan sumber daya yang paling penting bagi suatu organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuannya. Berapun sempurnanya aspek teknologi dan keuangan, tampa didukung oleh manusianya, maka tujuan organisasi akan sulit dicapai. Atas dasar itulah maka faktor sumber daya manusia perlu dibina dan dikembangkan.

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, maka diperlukan suatu strategi pembangunan sumber daya manusia. Salah satu strategi pengembangan sumber daya manusia baik itu perusahaan ataupun pemerintahan adalah pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan yang sesuai, pengembangan sistem penilaian prestasi kerja dan sistem pemberian imbalan, mengefektifkan pelaksanaan rekrutmen dan seleksi, perencanaan anggaran untuk sumber daya manusia serta membina hubungan dan komunikasi karyawan.

Modal manusia dapat menjadi sumber daya manusia yang handal dalam pembangunan apabila kualitasnya tinggi. Dalam hal ini sumber daya manusia dalam pembangunan memiliki peranan penting dalam kaitannya untuk meningkatkan kualitas pembangunan dan menjaga kelangsungan pembangunan itu sendiri. Era informasi dan teknologi yang berkembang dewasa ini semakin membuktikan bahwa penguasaan teknologi yang baik akan berdampak pada kualitas maupun kuantitas pembangunan itu sendiri. Agar teknologi dapat dikuasai, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Guna mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka dibutuhkan beberapa upaya diantaranya adalah dengan melakukan pengembangan sumber daya manusia. Beberapa upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, diantaranya adalah terdapatnya pendidikan yang diorganisasikan secara formal pada tingkat dasar, menengah dan pendidikan pada tingkat tinggi. Mamfaat dari adanya pendidikan bagi pembangunan ekonomi bagi suatu bangsa secara umum dapat menciptakan tenaga kerja yang lebih produktif, karena adanya peningkatan pengetahuan dan keahlian dan tersedianya kesempatan kerja yang lebih luas.

BAB IV

PENUTUP

4.1. Penutup

Berdasarkan uranian pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sumber daya alam dan sumber daya manusia memiliki peranan yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi suatu Negara.

4.2. Saran

Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangannya atau masih jauh dari kesempurnaannya seperti yang diharapkan oleh karena itu kritik dan saran baik itu dari bapak dosen maupun rekan mahasiswa/i yang bersifat konstruktif sangat diharapkan guna memperbaiki penulisan lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

 

–          Arsyad, Lincolin. (2004). Ekonomi Pembangunan. Yogakarta: Sekolah Tinggi Ekonomi YKPN

–          Sukanto Reksodiprodjo. 2000. Pengertian Produktivitas, Bumi Aksara, Jakarta.

–          Faustino Cardos, Gomes. Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2002.

–          Mathis dan Jackson. 2002.  Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Yogyakarta: Salemba Empat.

–          Irawan, M. Suparmoko, 1995, Ekonomi Pembangunan, Edisi Lima, Cetakan ke Empat, Yogyakarta, Penerbit BPFE.

–          Mudrajad Kuncoro, 1997, Ekonomi Pembangunan, Teori, masalah dan kebijakan. Cetakan pertama, unit penerbitan dan percetakan akademi manajemen perusahaan YKPN Yogyakarta.

Mei 26, 2011 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Inflasi Terhadap Minat Menabung

                 

ANALISIS PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA DAN TINGKAT INFLASI TERHADAP MINAT MENABUNG KONSUMEN

(Studi Kasus di Lembaga Keuangan Mikro Financa Dili Timor Leste)

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Institute of Business (IOB) Dili

  

 DISUSUN OLEH

                                         Nama              : LourenÇo M.A.M. GUSMÃO (Ado)

                                         Nim                 : 08121026

                                        Jurusan          : Manajemen Keuangan

 

INSTITUTE OF BUSINESS Dili Timor Leste

IOB

2011

 

 

 KATA PENGANTAR

Adalah kewajiban bagi setiap insang untuk dapat mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa karena kebesaran-Nyalah penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah  dengan judul “Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga Dan Tingkat Inflasi Terhadap Minat Menabung Konsumen” yang disusun untuk melengkapi syarat-syarat penyelesaian program studdi strata 1 pada Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Keuangan Universitas Institute of Business.

Penyusunan proposal ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang berupa bimbingan, doronganm nasehat ataupun bantuan lain. Oleh karena itu maka pada kesempatan ini penulis tidak lupa menyampaikan limpah terimah kasih kepada bapak Deonisio G. M. Fraga, selaku dosen pengasuh mata kuliah Metodologi Penelitian, yang selama ini telah mendidik dan membina penulis mengenai penyusunan suatu proposal atau karya ilmiah yang baik dan sewajarnya. Tak terlepas dari itu penulis pun menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu penulis  dalam penyelesain penulisan karya  ilmiah ini.

Semoga yang Maha Kuasa melimpahkan Rahmat dan HidayahNya atas kebaikan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian proposal ini

Penulis pun menyadari bahwa dalam penulisan ini belum sempurna dari apa yang diharapkan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritikan dan masukan yang konstruktif dari bapak dosen guna memperbaiki penulisan lebih lanjut.

 

 

Dili, Maret 2011

                      Penulis,           


DAFTAR ISI

 Halaman Judul…………………………………………………………………………………………………………….. i

Kata pengantar……………………………………………………………………………………………………………. ii

Daftar isi…………………………………………………………………………………………………………………… iii

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang…………………………………………………………………………………………………………….. 1

Perumusan Masalah……………………………………………………………………………………………………… 3

Pembatasan Masalah……………………………………………………………………………………………………. 3

Tujuan Penelitian…………………………………………………………………………………………………………. 4

Mamfat Penelitian……………………………………………………………………………………………………….. 4

Hipotesis……………………………………………………………………………………………………………………. 4

Sistematika penulisan…………………………………………………………………………………………………… 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tingkat Suku Bunga……………………………………………………………………………………………………. 6

Perhitungan Tingkat Suku Bunga………………………………………………………………………………….. 7

Teori Klasik Tentang Tingkat Suku Bunga……………………………………………………………………… 9

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Suku Bunga………………………………………………. 10

Tingkat Inflasi…………………………………………………………………………………………………………… 11

Teori Kuantitas Tentang Inflasi (Inflasi)……………………………………………………………………….. 11

Teori Inflasi Moneterisme…………………………………………………………………………………………… 11

Teori Ekspektasi………………………………………………………………………………………………………… 11

Jenis-Jenis Inflasi Menurut Faktor Penyebabnya……………………………………………………………. 12

Bentuk-Bentuk Inflasi……………………………………………………………………………………………….. 13

Kebijakan yang dapat diambil untuk menghadapi inflasi………………………………………………… 14

Minat Menabung……………………………………………………………………………………………………….. 15

Pendapat Kaum Ekonomi Klasik Tentang Tabungan……………………………………………………… 16

Tujuan Menabung di Bank………………………………………………………………………………………….. 16

Perhitungan Bunga Tabungan……………………………………………………………………………………… 16

Faktor-Faktor Tingkat Tabungan…………………………………………………………………………………. 17

Jenis-Jenis Tabungan………………………………………………………………………………………………….. 17

Peranan Tabungan……………………………………………………………………………………………………… 18

Produk Pneghimpunan Dana Bank………………………………………………………………………………. 18

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penelitian……………………………………………………………………………………………………… 19

Jenis Data Penelitian………………………………………………………………………………………………….. 19

Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………………………………………………………… 19

Variabel Penelitian…………………………………………………………………………………………………….. 19

Definisi Operasional Variabel Penelitian………………………………………………………………………. 20

Populasi dan Sampel………………………………………………………………………………………………….. 20

Alat pengumpulan dan Teknik Analisis Data………………………………………………………………… 20

Teknik Analisis Data………………………………………………………………………………………………….. 21 

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………….. 23

 

                                                                              BABI

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pada era globalisasi ini diseluruh belahan dunia baik di Negara maju maupun di Negara yang sedang berkembang aktivitas manusia yang berhubungan dengan menabung sangatlah penting, adanya tabungan masyarakat maka dana tersebut tidaklah hilang dari peredaran, tetapi dipinjam atau dipakai oleh pengusaha untuk membiayai investasinya. Dengan adanya aktivitas menabung maka penabung akan mendapatkan bunga atas tabungannya sedangkan pengusaha juga akan bersedia membayar bunga tersebut selama harapan keuntungan diperoleh dari investasi lebih besar dari yang dibayarkannya. Adanya kesamaan antara tabungan dengan investasi misalnya apabila tabungan meningkat maka pengeluaran investasi juga meningkat adalah sebagai akibat bekerja mekanisme bunga.

Akibat menabung memberikan banyak kemudahan dan manfaat bagi setiap orang. Manfaat bagi kegiatan setiap orang yakni; dapat mengakomodasi uangnya selanjutnya uang tersebut dapat digunakan untuk investasi. Dengan menabung setiap orang dapat merasakan keamanan uangnya terjamin dan tidak perlu takut kehilangan uangnya karena uang tersebut berada didalam suatu lembaga yang resmi, dengan menabung dapat melatih seseorang untuk hidup hemat. Dengan menabung dapat meringankan beban seseorang dimasa depan atau pada saat tertentu apabila si penabung mengalami kesulitan, maka setiap saat dia dapat mengambil uang sesuai dengan jenis tabungan mana yang telah dipilih oleh si penabung. Manfaat tabungan bukan hanya penting bagi si penabung tetapi juga bermanfaat bagi Negara dan lembaga perbankan karena melalui lembaga perbankan uang tersebut akan terakomodasi sebagai modal yang kemudian dapat digunakan sebagai penawaran kredit kepada pihak investor untuk dapat mengekspansi usahanya. Dari manfaat tabungan diatas orang dengan sendirinya sadar dan mau menyimpang uang di bank.

Aktivitas menabung dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tingkat suku bunga dan tingkat inflasi. Tingkat suku bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan akan uang yang terjadi dalam pasar uang. Tingkat suku bunga merupakan harga dari penggunaan uang atau bisa juga dipandang sebagai sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu seperti halnya dengan barang-barang lain. Apabila dana yang ditawarkan kreditur lebih kecil dari dana yang diminta debitur, maka tingkat suku bunga cenderung naik, demikian pula sebaliknya istilah tersebut adalah dana yang tersedia untuk dipinjamkan (bunga adalah harga yang terjadi dipasar dana investasi) artinya sebagian anggota masyarakat yang menabung, maka dari seluruh tabungan mereka akan membentuk supply atau penawaran dan lain pihak dalam periode yang sama anggota masyarakat yang membutuhkan dana (para investor) untuk membuka atau memperluas usaha mereka dari seluruh kebutuhan mereka akan membentuk permintaan akan uang. Selanjutnya para penabung dan para investor ini bertemu di pasar uang dan tawar menawar antara mereka akhirnya akan menghasilkan tingkat bunga kesepakatan.

Faktor yang sangat mempengaruhi  tabungan masyarakat berikutnya adalah inflasi. Inflasi ialah suatu keadaan dimana senangtiasa terjadi menigkatnya harga-harga atau suatu keadaan dimana terjadinya penurunan daripada nilai uang yang beredar didalam masyarakat sehingga untuk menghindari keadaan ini akan mengambil jalan pintas dengan mengubah uang kasnya  menjadi barang, yakni dengan cara membelanjakan uang kas untuk membeli barang-barang konsumsi, ini berarti akan mengakibatkan permintaan barang-barang dan selanjutnya akan meningkat pula harga barang, oleh karena itu walaupun masyarakat memegang banyak uang namun uang tersebut akan cepat habis karena harga riil daripada barang-barang yang tersedia di pasar juga meningkat, sehingga uang tersebut hanya dapat dugunakan oleh setiap orang untuk mengkonsumsi barang-barang daripada hasrat atau keinginan untuk menabung. Realitas ini akan mempengaruhi daya tabung masyarakat, jadi tingkat tabungan akan menurun karena dana masyarakat cenderung digunakan untuk mengkonsumsi barang.

Tingkat bunga dan inflasi bersama-sama sangat mempengaruhi masyarakat untuk dapat meningkatkan tabungan. Hal ini dapat kita amati pada kehidupan sehari-hari masyarakat yang selalu mencari informasi mengenai tingkat bunga yang tercipta didalam pasar uang, apabila mereka mengetahui bahwa tingkat bunga yang lebih tinggi maka masyarakat akan lebih mengurangi pengeluarannya untuk mengkonsumsi guna menambah tabungan mereka karena masyarakat mempunyai harapan bahwa uang mereka akan bertambah pada bulan atau tahun berikutnya daripada mereka harus menyimpang uang dirumah. Dan sebaliknya apabila tingkat suku bunga menurun maka masyarakat akan mengurangi tabungan. Hal ini serupa dengan inflasi, apabila inflasi semaking meningkat masyarakat akan menambah permintaan terhadap barang konsumsi, jadi akan menyebabkan  tabungan menurun dan sebaliknya apabila kedua faktor tersebut diatas sama-sama terjadi yaitu tingkat suku bunga menurun dan inflasi meningkat maka akan menyebabkan daya tabung masyarakat semakin menurun.

Masyarakat Timor Leste cenderung menabung uangnya di lembaga keuangan  Mikro Financa karena mereka merasa memperoleh keuntungan lewat bunga yang diberikan oleh bank kepada nasabah-nasabah yang menabung uangnya di lembaga keuangan mikro financa. Disamping bunga yang diberikan oleh bank kepada nasabah, bank juga menjamin keaman uang nasabah dan memberikan kemudahan atau fasilitas kepada nasabah sewaktu-waktu bila mereka mengambil kembali uang mereka pada saat mereka membutuhkan uang tersebut untuk keperluannya.

Mikro financa menawarkan bunga sebesar 0.5% pertahun kepada nasabah yang melakukan tabungan biasa, sedangkan nasabah yang melakukan tabungan berjangka atau deposito umumnya lembaga keuangan mikro financa memberikan tingkat suku Bunga 0.7% pertahun. Bunga seperti tersebut diatas baik bunga tabungan biasa maupun bunga tabungan berjangka atau deposito diberikan untuk meransang para nasabah untuk melakukan tabungan di lembaga keuangan mikro financa.

 Berdasarkan uraian diatas maka penulis cenderung mengambil judul “Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Inflasi Terhadap Minat Menabung Masyarakat dilembaga keuangan mikro financa”.

1.2.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis dapar merumuskan masalah sebagai berikut:

v  Adakah pengaruh antara tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara parsial terhadap terhadap minat menabung masyarakat?

v  Adakah pengaruh antara tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara simultan terhadap terhadap minat menabung masyarakat?

1.3.Pembatasan Masalah

Adapun pembatasan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

v  Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara parsial terhadap minat menabung masyarakat.

v  Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara simultan terhadap minat menabung masyarakat.

1.4.Tujuan Penelitian

v  Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara parsial terhadap minat menabung masyarakat.

v  Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara simultan terhadap minat menabung masyarakat.

1.5. Manfaat Penelitian

  1. Bagi pihak manajer perusahaan.

Hasil penelitian ini akan dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi pihak perusahaan atau sebagai sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak terkait pada perusahaan.

  1. Bagi akademisi

Hasil penelitian ini akan dijadikan sebagai bahan referensi bagi para mahasiswa berikutnya sekaligus menjadi bahan komparasi untuk penelitian sejenis.

  1. Bagi Penulis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan atau menambah pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas mengenai masalah yang diteliti.

1.6. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara atas masalah yang diteliti, jadi hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut

v Adanya pengaruh yang signifikan antara tingkat suku bunga dan tingkat inflasi terhadap minat menabung masyarakat.

 

1.7.          Sistematika Penulisan

  1. BAB I Pendahuluan mencakup uraian tentang latar belakang masalah, perumusahn masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
  2. BAB II menyangkut tinjauan pustaka yang berlandaskan pada berbagai pengertian dari ketiga variable serta pada teori-teori yang masih memiliki hubungan sesuai dengan judul penelitian.
  3. BAB III mengenai metodologi penelitian yang mencakup metode penelitian, Jenis Data peneltian, tempat dan waktu penelitian, variabel penelitian, definisi operasional, populasi dan sampel, alat pengumpulan data dan teknik analisis data.


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tingkat Suku Bunga

Pengertian tingkat bunga berdasarkat teori Keynes (Teori Liquidity Preference)

Tingkat bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan uang, menurut teori ini keinginan untuk memegang uang ada tiga motif (transaksi, berjaga-jaga dan berspekulasi) atau liquidity preference. Teori ini merupakan turunan dari teori permintaan akan uang dari Keynes sendiri. Permintaan uang menurut Keynes berdaarkan pada konsepsi bahwa orang pada umumnya menginginkan dirinya tetap liquid untuk memenuhi tiga motif tersebut, preference atau keinginan untuk tetap liquid inilah yang membuat orang bersedia membayar dengan harga atau tingkat bunga tertentu untuk penggunaan uang. Kaum Keynesian lebih menekan sifat uang sebagai satu aktiva yang liquid yang bisa digunakan untuk mengatakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari surat berharga.

Teori ini selalu mengatakan bahwa kurva hasil selalu mempunyai lereng (slope), artinya tingkat bunga pertahun untuk pinjaman yang berjangka lebih pendek (Budiono, Ekonomi Moneter, hal 82)

Menurut Karl dan Fair (2001:635) Suku bunga adalah Pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima setiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.

Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu

Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah:

  1. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.
  2. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sector industry apabila perusahaan-perusahaan dari industry tersebut akan meminjam dana, maka pemerintah memberi tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sector lain.
  3. Pemerintah dapat memamfaatkan suku bunga untuk mengontrol uang yang beredar.

2.1.1. Perhitungan tingkat suku bunga

            Menurut Dendawijaya Lukman (2001:105) dalam industry perbankan yang sangat kompetitif, penentuan tingkat bunga kredit menjadi suatu alat persaingan yang sangat strategis. Besar kecilnya bunga bunga kredit sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya bunga simpanan, semakin besar atau semakin mahal bunga simpanan, maka semakin besar pula bunga pinjaman  dan demikian pula sebaliknya. Disamping bunga pinjaman, pengaruh besar kecilnya bunga pinjaman juga dipengaruhi oleh komponen-komponen pokok dalam penentuan tingkat bunga kredit. Bank-bank yang mampu mengendalikan komponen-komponen pokok dalam penentuan tingkat bunga kredit (lending rate) akan mampu menentukan tingkat bunga kredit yang lebih rendah dibandingkan dengan bank-bank lainnya.

            Menurut Dendawijaya Lukman, dalam bukunya (2001:105) komponen-komponen yang menentukan tingkat bunga kredit adalah sebagai berikut:

  1. COLF

Sebagaimana diuraikan diatas, perhitungan COLF ini berturut-turut adalah sebagai berikut:

–          Menetapkan tingkat bunga yang akan dibayarkan kepada deposan

–          Menghitung komposisi sumber dana

–          Memperhatikan ketentuan tentang giro wajib minimum (GWM)

–          Menghitung biaya dana efektif dengan rumus

Bunga efektif 100%           x Tingkat Suku Bunga

                        100% – RR

–          Menghitung Kontribusi dana dengan rumus:

Kontribusi biaya dana = komposisi dana x biaya dana efektif

–          Menjumlahkan seluruh kontribusi biaya dana untuk memperoleh tingkat COLF

  1. Overhead Cost

Banyak konsep dan pendapat yang dianut oleh praktisi perbankan mengenai overhead cost. Salah satu konsep overhead cost diartikan sebagai seluruh biaya (diluar bunga) yang dikeluarkan oleh bank didalam menjalankan kegiatan lebih lanjut diangap bahwa menanggung biaya-biaya tersebut adalah seluruh aktiva bank yang menghasilkan pendapatan (Total earning asset).

Oleh karena itu formula overhead cost ditulis sebagai berikut:

Overhead cost = Total biaya (non bunga) x 100%

                            Total earning asset

Besarnya persentase overhead cost tiap-tiap bank berbeda antar bank yang satu dengan bank lainnya. Hal ini sangat tergantung dari efisien suatu bank didalam mengontrol biaya-biaya serta kemampuan bank didalam memperluas akan cenderung mempunyai overhead cost yang rendah dengan asumsi terdapat pengendalian biaya dalam standard yang normal pada bank tersebut. Perhitungan overhead cost antara 2% – 4%.

  1. Risk Faktor

Penentuan risk faktor sebagai komponen tingkat suku bunga kredit lebih bersifat taktis didalam upaya memperbesar pendapatan bank umum. Penentuan besarnya presentase RR terhada lending rate ditujukan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya resiko kredit, selain itu perbankan juga berusah untuk menekan tingkat risk faktor sebagai komponen lending rate dalam upaya memperbesar pendapatan dan menghadapi persaingan dalam industry perbankan.

Risk faktor yang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Risk Faktor = Biaya penyisihan cadangan penghapusan kredit  x 100%

                                    Total kredit yang diberikan

  1. Spread

Merupakan pendapatan bank yang pokok, yang akan menentukan berapa besarnya pendapatan perusahaan (net income) bank.  Besarnya net margin bervariasi atau tergantung dari value kredit bank. Semakin besarnya value kredit maka spread dapat diusahakan semakin rendah. Hal ini dikarenakan bank akan cenderung untuk mengejar omzet penjualan kredit untuk mendapatkan nilai absolut pendapatan bersih usaha.

Pemilihan strategis spread kearah yang tinggi atau pun rendah sangat tergantung dari pangsa pasar (target market) yang ingin direbut oleh bank tersebut dengan melakukan menganalisis dari persentase bank yang sekelas ataupun rata-rata industry. Pada umumnya bank menetapkan spread 2 – 3% p.a akan merupakan harga yang layak sebagai komponen dari lending rate.

  1. Pajak

Pajak merupakan kewajiban yang dibebankan pemerintah kepada bank yang memberikan fasilitas kredit kepada nasabahnya.. pembebanan pajak sebagai komponen dari penentuan tingkat bunga kredit (lending rate) dapat dibebankan penuh atau sebagian, tergantung pada kebijakan bank yang bersangkutan dalam menghadapi persaingan.

            Bunga atau riba adalah penambahan, perkembangan , peningkatan dan pembesaran yang diterima pemberi pinjaman dari peminjam dari jumlah pinjaman pokok  sebagai imbalan karena menangguhkan atau berpisah dari sebagian modalnya selama periode waktu tertentu. Secara umum riba adalah pengambilan tambahan yang harus dibayarkan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam yang bertentangan dengan prinsip syariah (Sudarsono, dalam Rad it ya; 2007)

2.1.2. Teori klasik tentang tingkat bunga: Loanable funds

Tabungan menurut teori klasik (teori yang dikemukakan kaum klasik seperti Adam Smith, David Ricardo, dll) adalah fungsi dari tingkat bunga, makin tinggi bunga, maka makin tinggi pula keingginan masyarakat untuk menyimpan dananya dibank. Artinya, pada tingkat bunga yang lebih tinggi, masyarakat akan terdorong untuk mengorbankan atau mengurangi pengeluaran untuk berkonsumsi guna menambah tabungan. Sedangkan bunga adalah harga dari (penggunaan) loanable funds, atau bisa diartikan sebagai dana yang tersedia untuk dipinjamkan atau dana investasi, karena menurut teori klasik bunga adalah harga yang terjadi dipasar investasi. Investasi juga merupakan tujuan dari tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga (tingkat bunga kredit), maka keingunan untuk melakukan investasi juga semakin kecil. Alasannya, seorang pengusaha akan menambah pengeluaran invesinya apabila keuntungan yang diharapkan dari investasi tersebut lebih besar dari tingkat bunga yang harus dibayarkan untuk dana investasi tersebut sebagai ongkos untuk penggunaan dana (cost of capital). Makin rendah tingkat bunga, maka pengusaha akan mendorong untuk melakukan investasi, sebab biaya penggunaan dana juga semakin kecil. Tingkat bunga dalam keadaan keseimbangan (artinya tidak ada dorongan untuk naik atau turun) akan tercapai apabila keinginan menabung masyarakat sama dengan keinginan pengusaha untuk melakukan investasi.

            Suku bunga adalah pendapatan (bagi kreditor) atau beban bagi (debitor) yang diterima atau dibayarkan oleh kreidtor atau debitor (Madura, 2003). Menurut Kamus lengkap ekonomi (2000,p.693), suku bunga (interest rate) adalah kompensasi yang dibayar peminjam dana kepada kepada yang meminjam. Bagi peminjam, suku bunga merupakan biaya pinjaman atau harga yang dibayar atas uang yang dipinjamkan, yang merupakan tingkat pertukaran dari konsumsi sekarang untuk konsumsi masa mendatang. Biasanya diekspresikan sebagai persentase pertahun yang dibebankan atas uang yang dipinjam atau dipinjamkan.

2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi suku bunga

            Beberapa faktor dalam ekonomi yang dapat mempengaruhi pergerakan suku bunga, yaitu (Madura 2003):

–          Pertumbuhan ekonomi

Pada saat perusahaan melakukan ekspansi, akan diperlukan uang sehingga permintaan akan uang semakin meningkat. Perusahaan yang melakukan ekspansi ini tak lepas dari kondisi perekonomian yang mendukung (kondisi perekonomian baik). Pada saat kondisi perekonomian baik, maka tingkat suku bunga meningkat. Sebaliknya, pada saat kondisi ekonomi buruk, maka perusahaan akan merubah strategi pembelanjaannya menjadi penggunaan modal sendiri sehingga tidak ada permintaan akan uang (permintaan menurun). Permintaan akan uang yang menurun menyebabkan tingkat suku bunga turun.

–          Adanya inflasi

Saat tingkat inflasi suatu Negara meningkat maka tingkat suku bunga juga akan semakin menigkat, karena pada saat terjadi inflasi akan diikuti dengan naiknya harga barang dan diperkirakan dimasa depan harga barang akan naik lagi (expected inflation rate) sehingga masyrakat banyak yang akan membeli barang-barang sekarang. Dengan melakukan pembelian maka dana yang dimiliki masyarakat berkurang sehingga muncul permintaan akan uang. Naiknya permintaan akan uang menyebabkan tingkat suku bunga meningkat.

–          Defisit anggaran pemerintah

Defisit anggaran merupakan suatu kondisi dimana pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Untuk menutupi deficit, maka pemerintah melakukan peminjaman sehingga hal ini dapat menyebabkan tingkat suku bunga meningkat dan sebaliknya.

Tingkat suku bunga yang tinggi akan menyebabkan investor menarik investasi sahamnya dan memindahkannya pada investasi yang menawarkan tingkat pengembalian lebih baik dan aman, seperti deposito. Akibat  aksi para investor yang menarik sahamnya menyebabkan pasar modal sepi. Turunnya permintaan akan saham mengakibatkan terjadinya kelebihan penawaran saham, sehingga harga-harga saham turun dan akan menyebabkan indeks harga saham gabungan juga turun (Samsul 2006).

2.2. Tingkat Inflasi

Teori Kuantitas tentang Inflasi (klasik)

Teori kuantitas merupakan teori yang paling tertua yang pernah ada mengenai inflasi. Teori ini mengatakan bahwa inflasi itu bisa terjadi jika ada penambahan volume uang yang beredar. Gampangnya begini, Jika ada Cuma 1kg beras dan Cuma ada duit 1 dollar maka harga 1kg beras seharga 1 dollar, seandainya penambahan lagu duit 2 dollar maka harganya bisa menjadi 2 dollar.

Menurut teori ini inflasi bakalan berhenti sendirinya jika jumlah uang tidak ditambah.

Menurut Keynes inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi menurut pandangan ini tidak lebih adalah proses perebutan pendapatan diantara kelompok-kelompok social yang menginginkan bagian yang lebih besar  dari pada bagian yang dapat diselesaikan oleh masyarakat. Kelompok-kelompok social ini misalnya orang-orang pemerintahan sendiri, pihak swasta atau juga serikat buruh yang berusaha mendapatkan kenaikan gaji atau upah, dimana hal ini dapat berdampak terhadap permintaan barang dan jasa yang pada akhirnya akan menaikan harga. (Budiono, Ekonomi Moneter, hal 169).

Teori Inflasi Moneterisme

Teori ini berpendapat bahwa, inflasi disebabkan oleh kebijakan moneter dan fiscal yang expansif, sehingga jumlah uang beredar di masyarakat akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan barang dan jasa di sector riil. Menurut golongan moneteris, inflasi dapat diturunkan dengan cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiscal yang bersifat kontraktif atau melalui control terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap subsidi nilai tukar valuta asing.

Teori Ekspektasi

Menurut Dornbusch, bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logic untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada.

Inflasi adalah suatu kondisi dimana tingkat harga meningkat secara terus menerus (Mishkin 2001,p.11). Menurut Bodie, kane dan Marcus (2001,p.331) inflasi merupakan suatu nilai dimana tingkat harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan.

Menurut Pohan, inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga yang terjadi secara terus menerus dan kenaikan harga terjadi pada seluruh kelompok barang dan jasa (2008,p.158). Laju inflasi merupakan gambaran harga-harga. Harga yang membumbung tinggi tergambar dalam inflasi yang tinggi. Sementara itu, harga yang relatif stabil tergambar dalam angka inflasi yang rendah (Pohan,2008,p.52)

Sedangkan menurut Samuelson   dan Nordhaus (2001), tingkat inflasi adalah kenaikan presentase tahunan dalam tingkat harga umum yang diukur berdasarkan indeks harga konsumen atau indeks harga lainnya. Dapat kita simpulkan bahwa bila yang naik hargayna hanya satu barang saja maka bukan inflasi, tetapi bila kenaikan itu mengakibatkan harga barang atau jasa yang lain juga naik maka disebut inflasi.

2.2.1. Jenis-jenis inflasi menurut faktor-faktor penyebabnya

            Menurut Samuelson dan Nordhaus (2001,p.692) dua kekuatan pokok dalam perekonomian yang dapat menyebabkan inflasi adalah sebagai berikut:

–          Demand – Pull Inflation

Inflasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (aggregate demand) yang melebihi jumlah yang bisa dihasilkan oleh suatu perekonomian, sedangkan produksi berada pada keadaan penggunaan tenaga kerja penuh. Dalam keadaan tersebut jumlah uang yang dimiliki masyarakat akan berhadapan langsung dengan jumlah penawaran barang terbatas. Akibatnya adalah harga-harga akan mengalami kenaikan.

–          Cost – Push Inflation

Inflasi ini biasanya ditandai dengan kenaikan harga serta turunnya produksi. Keadaan ini timbul biasanya dimulai dengan adanya penurunan total (aggregate supply) sebagai akibat kenaikan biaya produksi. Kenaikan biaya produksi ini dapat timbul karena beberapa faktor, diantaranya yaitu adanya kenaikan upah buruh, industry yang bersifat monopolistis (dimana penguasa memiliki kekuasaan untuk menentukan harga), serta karena adanya kenaikan harga bahan baku industry.

2.2.2. Bentuk – bentuk inflasi

            Menurut Samuelson dan Nordhaus (2001,p.678) inflasi dibedakan dalam tiga kategori pokok, yaitu:

–          Inflasi Moderat

Bentuk inflasi ini terjadi ketika harga-harga barang dan jasa meningkat secara perlahan-lahan. Inflasi ini dikatakan moderat apabila angkanya masih berada dibawah 10% pertahun. Dalam situasi inflasi moderat dan stabil, harga-harga barang dan jasa relatif tidak akan bergerak jauh menyimpang.

–          Inflasi Ganas (Galloping Inflation)

Bentuk inflasi ini terjadi ketika harga-harga mulai melonjak 20, 100 hingga 200 persen setahun artinya inflasi ini ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (biasanya double digit atau triple digit), inflasi ini sering disebut dengan inflasi dua/tiga/digit.

–          Hiperinflasi (Hyperinflation)

Bentuk inflasi ketiga yang paling mematikan ini ditandai dengan meningkatnya harga-harga barang dan jasa hingga berlipat-lipat kali.

            Berdasarkan penelitian empiris diketemukan adanya fakta bahwa inflasi memiliki korelasi negative dengan harga saham (Widoatmojo, 1995). Hal ini berarti jika tingkat inflasi naik maka harga saham akan turun dan sebaliknya. Meningkatnya laju inflasi akan menyebabkan para investor engan untuk menginvestasikan dananya dalam bentuk saham, mereka cenderung untuk memilih investasi dalam bentuk logam mulia atau real state dimana investasi jenis ini dapat melindungi investor dari kerugian yang disebabkan inflasi ( Winger 1992). Maka dapat disimpulkan bahwa tingkat inflasi akan mempengaruhi harga saham yang berarti juga ikut mempengaruhi indeks harga saham gabungan.

            Dalam situs http://peminataniesppembangunan.blogspot.com/ dijelaskan banyak pengertian inflasi yang disampaikan para ahli. Inflasi menurut A.P. Lehnerinflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan. Ahli yang lain yaitu  Ackley menberi pengertian inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat).

            Menurut Boediono, inflasi sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain.

2.2.3. Kebijana yang dapat diambil untuk menghadapi inflasi

            Inflasi tentunya harus diatasi dan untuk mengatasinya dapat dilakukan pemerintah dan otoritas moneter dengan cara melakukan beberapa kebijakan yang menyangkut bidang moneter, fiscal dan non moneter. Adapun kebijakan tersebut akan diuraikan dibawah ini:

–          Kebijakan moneter adalah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang beredar. Penyebab inflasi diantara jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga dengan kebijakan ini diharapkan junlah uang yang beredar dapat dikurangi menuju kondisi normal. Untuk menjalankan kebijakan ini bank indonesia menjalankan beberapa politik/kebijakan yaitu politik diskonto, politik pasar terbuka dan menaikkan cash ratio.

  • Politik Diskonto ditujukan untuk menaikan tingkat bunga karena dengan bunga kredit tinggi maka aktivitas ekonomi yang menggunakan dana pinjaman akan tertahan karena modal pinjaman menjadi mahal.
  • Politik Pasar terbuka dilakukan dengan cara menawarkan surat berharga ke pasar modal. Dengan cara ini diharapkan masyarakat membeli surat berharga tersebut seperti SBI yang memiliki tingkat bunga tinggi dan ini merupakan upaya agar uang yang beredar di masyarakat mengalami penurunan jumlahnya.
  • Cash Ratio artinya cadangan yang diwajibkan oleh bank sentral kepada bank-bank umum yang besarnya tergantung kepada keputusan dari bank sentral atau pemerintah. Dengan jalan menaikkan perbandingan antara uang yang beredar dengan uang yang mengendap didalam kas mengakibatkan kemampuan bank untuk menciptakan kredit berkurang sehingga jumlah uang yang beredar akan berkurang.

–          Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang berhubungan dengan finansial pemerintah. Bentuk kebijakan ini antara lain:

  • Pengurangan pengeluaran pemerintah, sehingga pengeluaran keseluruhan dalam perekonomian bisa dikendalikan.
  • Menaikkan pajak, akan mengakibatkan penerimaan uang masyarakat berkurang dan ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang menurun dan tentunya permintaan akan barang dan jasa yang bersifat konsumtif tentunya berkurang.

–          Kebijakan non moneter dapat dilakukan dengan cara menaikkan hasil produksi, kebijakan upah dan pengawasan harga dan distribusi barang.

  • Menaikkan hasil produksi, cara ini cukup efektif mengingat inflasi disebabkan oleh kenaikan jumlah barang konsumsi tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu pemerintah membuat prioritas produksi atau memberi bantuan (subsidi) kepada sector produksi bahan bakar, produksi beras.
  • Kebijakan Upah, tidak lain upaya mengstabilkan upah/gaji, dalam pengertian bahwa upah tidak sering dinaikkan karena kenaikan yang relatif sering dilakukan akan dapat meningkatkan daya beli dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan dan pada akhirnya akan menimbulkan inflasi.
  • Pengawasan harga dan distribusi barang dimaksudkan agar harga tidak terjadi kenaikan, hal ini seperti yang dilakukan pemerintah dalam menetapkan harga tertinggi (harga eceran tertinggi)

 

2.3. Minat Menabung

Menurut Edward W. Reed dan K. Gill (1995) yang memperngaruhi nasabah dalam menabung adalah kemamfatan, lokasi, pelayanan dan tingkat suku bunga. Lokasi suatu bank akan mempengaruhi kelancaran dari usaha tersebut

Menurut Fred Selnes (1993) bahwa pada bisnis-bisnis industry dan jasa, nama (merk) lebih sering dihubungkan dengan reputasi perusahaan dari pada dengan produk atau jasa itu sendiri. Karena itu salah satu pertimbangan nasabah dalam menabung di bank adalah reputasi perusahaan tersebut di mata nasabahnya. Karena kepercayaan merupakan salah satu faktor utama bagi nasabah untuk mempercayakan uangnya ditabung atau diinvestasikan pada bank tersebut.

Pendapat kaum ekonomi klasik tentang tabungan.

Tabungan menurut teori klasik merupakan fungsi dari tingkat bunga sehingga makin tinggi tingka bunga makin tinggi pula keingan masyarakat akan lebih terdorong untuk mengorbankan atau mengurangi pengeluaran untuk konsumsi guna menambah tabungan dan sebaliknya apabila tingkat bunga makin rendah atau tidak ada sama sekali maka tidak terdorong keinginan masyarakat untuk menabung di Bank (Nopirin Phd, Ekonomi Moneter I, hal 70)

Pengertian tabungan menurut Undang-undang perbankan no 10 tahun 1998 adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Tujuan menabung di bank adalah:

–          Penyisihan sebagian hasil pendapatan nasabah untuk dikumpulkan sebagai cadangan hari depan.

–          Sebagai alat untuk melakukan transaksi bisnis.

Sarana penarikan tabungan:

–          Buku tabungan

–          Slip penarikan

–          ATM (anjungan tunai mandiri)

–          Sarana lainnya (Formulir transfer, Internet banking, Mobile banking, dll)

Perhitungan bunga tabungan:

–          Metode saldo terendah. Besarnya bunga tabungan dihitung dari jumlah saldo terendah pada bulan laporan dikalikan dengan suku bunga pertahun kemudian dikalikan dengan jumlah hari pada bulan laporan dan dibagi dengan jumlah hari dalam satu tahun.

Misalnya untuk menghitung bunga pada bulan Mei, maka besarnya bunga dihitung: Bunga tabungan = ….%* 31/365* saldo terendah pada bulan Mei.

–          Metode perhitungan bunga berdasarkan saldo rata-rata. Pada metode ini, bunga dalam satu bulan dihitung berdasarkan saldo rata-rata dalam bulan berjalan. Saldo rata-rata dihitung berdasarkan jumlah saldo akhir tabungan setiap hari dalam bulan berjalan, dibagi dengan jumlah hari dalam bulan tersebut.

–          Metode perhitungan bunga berdasarkan saldo harian. Pada metode ini bunga dihitung dari saldo harian. Bunga tabungan dalam bulan berjalan dihitung dengan menjumlahkan hasil perhitungan bunga setiap harinya.

Faktor-faktor tingkat tabungan:

–          Tinggi rendahnya pendapatan masyarkat

–          Tinggi rendahya suku bunga bank

–          Adanya tingkat kepercayaan terhadap bank.

(Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas http://id.wikipedia.org/wiki/tabungan)

 

            Menurut Lukman Dendawijaya (2003;58) pengertian tabungan yaitu:

Tabungan adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.

2.3.1. Jenis-Jenis Tabungan

            Dalam aspek perbankan di Indonesia dewasa ini terdapat beberapa jenis tabungan. Perbedaan ini hanya terletak pada fasilitas yang diberikan kepada penabung. Dengan demikian penabung mempunyai banyak pilihan. Jenis-jenis yang dimaksud adalah:

–          Tabungan Pembangunan Nasional

Yaitu bentuk tabungan yang tidak terkait oleh jangka waktu dengan syrat penyorotan dan pengambilan yang untuk pertama kalinya diatur pada tahun 1971. Tabanas terdiri dari:

  • Tabanas Umum, yaitu tabanas yang berlaku bagi perorangan dilaksanakan secara sendiri-sendiri oleh pihak penabung bersangkutan.
  • Tabanas Pemuda, Pelajar dan Pramuka (Tapelpram), yaitu tabungan khusus yang dilaksanakan secara kolektif melalui organisasi pemuda, sekolah dan satuan pramuka.
  • Tabanas Pegawai, yaitu tabanas khusus para pegawai dari semua golongan kepangkatan secara kolektif.

–          Tabungan Asuransi Berjangka (Taska), yaitu bentuk tabungan dengan asuransi jiwa.

–          Tabungan Ongkos Naik Haji (ONH), yaitu setoran ongkos naik haji atas nama calon Jemaah haji untuk setiap musim haji.

2.3.2. Peranan Tabungan

            Dalam suatu bank, tabungan mempunyai peranan penting yaitu sebagai sumber dana bank. Dimana dana tersebut akan menentukan volume dana yang akan dipertimbangkan oleh pihak bank tersebut dalam bentuk penanaman dana yang menghasilkan, misalnya dalam bentuk pemberian kredit yang diberikan kepada masyarakat dalam jangka waktu tertentu.

            Bank yang menyediakan fasilitas tabungan dengan tujuan untuk mendapatkan kepercayaan diri masyarakat sebagai nasabah untuk mengelola dananya, dengan adanya kepercayaan tersebut maka bank akan dengan mudah menarik banyak nasabah.

            Tabungan sangat berperan penting dalam perbankan sehingga apabila tabungan menigkat maka sumber dana pada bank akan naik demikian juga dengan laba yang diperoleh dari pendapatan bunga akan meningkat pula.

Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2001:83) Tabungan lainnya adalah semua tabungan pihak ketiga kepada bank yang administrasi pembukuannya dilakukan dalam buku tabungan, menabung dan penarikan tabungan dilakukan dengan slip tabungan dan slip penarikan yang telah disediakan oleh bank.

2.3.3. Produk Penghimpunan Dana Bank

            Salah satu aktivitas bank adalah menghimpun dana dari masyarakat. Berdasarkan ketentuan pasal 1 UU No. 7 tahun 1992 yang dirubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan, Jenis dana yang dapat dihimpun oleh bank adalah sebagai berikut:

–          Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menerbitkan cek untuk penarikan tunai atau bilyet giro untuk pemindahbukuan.

–          Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu sesuai tanggal yang diperjanjikan antara deposan dan bank.

–          Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan syarat tertentu yang disepakati dan tidak dengan cek atau bilyet giro atau alat lain yang dipersamakan dengan itu.

–          Serifikat deposito adalah deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperjualbelikan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1         Metode Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang data yang berbentuk angka-angka yang dapat dihitung, dimana dalam perhitungan ini menghitung seluruh nasabah yang melakukan tabungan di lembaga mikro financa dan suku bunga yang ditawarkan kepada para nasabah. Kemudian data kualitatif adalah mencari tahu kenaikan harga barang.

3.2         Jenis Data Penelitian

3.2.1. Data Primer

Data primer yaitu pengedaran kuesioner untuk memperoleh informasi seberapa besar peningkatan harga barang/inflasi di pasar.

3.2.2. Data Sekunder

Jenis penelitian ini adalah mengolah data sekunder atau data yang sudah tersedia di bank mikro financa yaitu jumlah orang yang melakukan tabungan dan suku bunga yang disediakan oleh lembaga keuangan Mikro financa

3.3         Tempat dan waktu penelitian

Dalam penulisan proposal ini lokasi penelitian adalah lembaga mikro financa dan pasar Comoro Distrik Dili Timor Leste.

Penelitian akan dilakukan apabila proposal ini disetujui.

3.4         Variabel Penelitian

Ada dua variable dalam penelitian ini yaitu:

  1. Variabel independent (Variabel bebas) dimana terdapat dua yaitu:

–          Variabel Tingkat suku bunga (X1)

–          Variabel Tingkat Inflasi (X2)

  1. Variabel dependent (variable terikat) yaitu:

Variabel Minat Menabung Konsumen (Y)

3.5         Definisi Operasional Variabel Penelitian

3.5.1        Tingkat suku bungan

Bunga atas uang nasabah yang digunakan pihak lain dan sebagai balas jasa uang nasabah adalah bunga yang diberikan oleh pihak lembaga keuangan kepada nasabah   

3.5.2        Inflasi

Peningkatan tingkat harga umum dari barang dan jasa dalam periode tertentu atau suatu keadaan dimana harga barang-barang secara umum mengalami kenaikan.

3.5.3        Minat menabung

Keinginan besar dari nasabah yang tinggi untuk melakukan tabungan atau sebaliknya

3.6         Populasi dan Sampel

3.6.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek  yang mempunyai dan karakteritik tertentu yang ditetapkan  sebagai populasi jumlah yang ada pada obyek penelitian.

3.6.2. Sampel

Mengingat akan masalah waktu maka tidak semua populasi yang ada dilakukan penelitian, maka penulis cenderung mengambil bagian dari populasi yang ada yang disebut sebagai sampel dengan menggunakan system acak.

3.7         Alat Pengumpulan dan teknik analisis data

3.7.1        Alat pengumpulan data

  1. Kuesioner

Prosedur ini dilakukan dengan memberikan beberapa lembar daftar pertanyaan kepada para responden di lokasi penelitian

  1. Wawancara

Prosedur ini dilaksanakan secara langsung dengan mewawancarai para responden dengan berpedoman pada pertanyaan yang telah disediakan.

  1. Observasi

Prosedur ini dilakukan dengan mengamati secara langsung di lokasi penelitian.

  1. Dokumentasi

Prosedur ini dilakukan dengan mencatat data-data kejadian serta memperoleh salinan, baik yang berupa tulisan, laporan, arsip serta berkas-berkas yang dipandang mempunyai hubungan dengan masalah yang diteliti.

3.7.2        Teknik Analisis data

Teknik yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini dengan maksud untuk mendapatkan pengaruh dua variable prdikator dengan variable ariteriumnya.

3.7.2.1   Untuk mengetahui besarnya pengaruh antara dua variable bebas secara bersama-sama terhadap variable tergantung dengan menggunakan rumus persamaan regresi linear berganda. Menurut Dr. Djawanto PS dan Drs. Pangestu Subayo, (1993:309)

Y= a + b1X1 + b2X2

Keterangan:

Y                     = Variabel terikat (nilai duga Y)

X1, X2              = Variabel bebas

a, b1, b2                = Koefisien regresi linear berganda

3.7.2.2   Rumus korelasi product moment

3.7.2.3   Rumus Korelasi linear berganda

3.7.2.4   Rumus Koefisien determinasi

Mei 26, 2011 Posted by | Uncategorized | 6 Komentar