Dodogusmao's Blog

Just another WordPress.com weblog

Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Inflasi Terhadap Minat Menabung

                 

ANALISIS PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA DAN TINGKAT INFLASI TERHADAP MINAT MENABUNG KONSUMEN

(Studi Kasus di Lembaga Keuangan Mikro Financa Dili Timor Leste)

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Institute of Business (IOB) Dili

  

 DISUSUN OLEH

                                         Nama              : LourenÇo M.A.M. GUSMÃO (Ado)

                                         Nim                 : 08121026

                                        Jurusan          : Manajemen Keuangan

 

INSTITUTE OF BUSINESS Dili Timor Leste

IOB

2011

 

 

 KATA PENGANTAR

Adalah kewajiban bagi setiap insang untuk dapat mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa karena kebesaran-Nyalah penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah  dengan judul “Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga Dan Tingkat Inflasi Terhadap Minat Menabung Konsumen” yang disusun untuk melengkapi syarat-syarat penyelesaian program studdi strata 1 pada Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Keuangan Universitas Institute of Business.

Penyusunan proposal ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang berupa bimbingan, doronganm nasehat ataupun bantuan lain. Oleh karena itu maka pada kesempatan ini penulis tidak lupa menyampaikan limpah terimah kasih kepada bapak Deonisio G. M. Fraga, selaku dosen pengasuh mata kuliah Metodologi Penelitian, yang selama ini telah mendidik dan membina penulis mengenai penyusunan suatu proposal atau karya ilmiah yang baik dan sewajarnya. Tak terlepas dari itu penulis pun menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu penulis  dalam penyelesain penulisan karya  ilmiah ini.

Semoga yang Maha Kuasa melimpahkan Rahmat dan HidayahNya atas kebaikan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian proposal ini

Penulis pun menyadari bahwa dalam penulisan ini belum sempurna dari apa yang diharapkan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritikan dan masukan yang konstruktif dari bapak dosen guna memperbaiki penulisan lebih lanjut.

 

 

Dili, Maret 2011

                      Penulis,           


DAFTAR ISI

 Halaman Judul…………………………………………………………………………………………………………….. i

Kata pengantar……………………………………………………………………………………………………………. ii

Daftar isi…………………………………………………………………………………………………………………… iii

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang…………………………………………………………………………………………………………….. 1

Perumusan Masalah……………………………………………………………………………………………………… 3

Pembatasan Masalah……………………………………………………………………………………………………. 3

Tujuan Penelitian…………………………………………………………………………………………………………. 4

Mamfat Penelitian……………………………………………………………………………………………………….. 4

Hipotesis……………………………………………………………………………………………………………………. 4

Sistematika penulisan…………………………………………………………………………………………………… 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tingkat Suku Bunga……………………………………………………………………………………………………. 6

Perhitungan Tingkat Suku Bunga………………………………………………………………………………….. 7

Teori Klasik Tentang Tingkat Suku Bunga……………………………………………………………………… 9

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Suku Bunga………………………………………………. 10

Tingkat Inflasi…………………………………………………………………………………………………………… 11

Teori Kuantitas Tentang Inflasi (Inflasi)……………………………………………………………………….. 11

Teori Inflasi Moneterisme…………………………………………………………………………………………… 11

Teori Ekspektasi………………………………………………………………………………………………………… 11

Jenis-Jenis Inflasi Menurut Faktor Penyebabnya……………………………………………………………. 12

Bentuk-Bentuk Inflasi……………………………………………………………………………………………….. 13

Kebijakan yang dapat diambil untuk menghadapi inflasi………………………………………………… 14

Minat Menabung……………………………………………………………………………………………………….. 15

Pendapat Kaum Ekonomi Klasik Tentang Tabungan……………………………………………………… 16

Tujuan Menabung di Bank………………………………………………………………………………………….. 16

Perhitungan Bunga Tabungan……………………………………………………………………………………… 16

Faktor-Faktor Tingkat Tabungan…………………………………………………………………………………. 17

Jenis-Jenis Tabungan………………………………………………………………………………………………….. 17

Peranan Tabungan……………………………………………………………………………………………………… 18

Produk Pneghimpunan Dana Bank………………………………………………………………………………. 18

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penelitian……………………………………………………………………………………………………… 19

Jenis Data Penelitian………………………………………………………………………………………………….. 19

Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………………………………………………………… 19

Variabel Penelitian…………………………………………………………………………………………………….. 19

Definisi Operasional Variabel Penelitian………………………………………………………………………. 20

Populasi dan Sampel………………………………………………………………………………………………….. 20

Alat pengumpulan dan Teknik Analisis Data………………………………………………………………… 20

Teknik Analisis Data………………………………………………………………………………………………….. 21 

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………….. 23

 

                                                                              BABI

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pada era globalisasi ini diseluruh belahan dunia baik di Negara maju maupun di Negara yang sedang berkembang aktivitas manusia yang berhubungan dengan menabung sangatlah penting, adanya tabungan masyarakat maka dana tersebut tidaklah hilang dari peredaran, tetapi dipinjam atau dipakai oleh pengusaha untuk membiayai investasinya. Dengan adanya aktivitas menabung maka penabung akan mendapatkan bunga atas tabungannya sedangkan pengusaha juga akan bersedia membayar bunga tersebut selama harapan keuntungan diperoleh dari investasi lebih besar dari yang dibayarkannya. Adanya kesamaan antara tabungan dengan investasi misalnya apabila tabungan meningkat maka pengeluaran investasi juga meningkat adalah sebagai akibat bekerja mekanisme bunga.

Akibat menabung memberikan banyak kemudahan dan manfaat bagi setiap orang. Manfaat bagi kegiatan setiap orang yakni; dapat mengakomodasi uangnya selanjutnya uang tersebut dapat digunakan untuk investasi. Dengan menabung setiap orang dapat merasakan keamanan uangnya terjamin dan tidak perlu takut kehilangan uangnya karena uang tersebut berada didalam suatu lembaga yang resmi, dengan menabung dapat melatih seseorang untuk hidup hemat. Dengan menabung dapat meringankan beban seseorang dimasa depan atau pada saat tertentu apabila si penabung mengalami kesulitan, maka setiap saat dia dapat mengambil uang sesuai dengan jenis tabungan mana yang telah dipilih oleh si penabung. Manfaat tabungan bukan hanya penting bagi si penabung tetapi juga bermanfaat bagi Negara dan lembaga perbankan karena melalui lembaga perbankan uang tersebut akan terakomodasi sebagai modal yang kemudian dapat digunakan sebagai penawaran kredit kepada pihak investor untuk dapat mengekspansi usahanya. Dari manfaat tabungan diatas orang dengan sendirinya sadar dan mau menyimpang uang di bank.

Aktivitas menabung dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tingkat suku bunga dan tingkat inflasi. Tingkat suku bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan akan uang yang terjadi dalam pasar uang. Tingkat suku bunga merupakan harga dari penggunaan uang atau bisa juga dipandang sebagai sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu seperti halnya dengan barang-barang lain. Apabila dana yang ditawarkan kreditur lebih kecil dari dana yang diminta debitur, maka tingkat suku bunga cenderung naik, demikian pula sebaliknya istilah tersebut adalah dana yang tersedia untuk dipinjamkan (bunga adalah harga yang terjadi dipasar dana investasi) artinya sebagian anggota masyarakat yang menabung, maka dari seluruh tabungan mereka akan membentuk supply atau penawaran dan lain pihak dalam periode yang sama anggota masyarakat yang membutuhkan dana (para investor) untuk membuka atau memperluas usaha mereka dari seluruh kebutuhan mereka akan membentuk permintaan akan uang. Selanjutnya para penabung dan para investor ini bertemu di pasar uang dan tawar menawar antara mereka akhirnya akan menghasilkan tingkat bunga kesepakatan.

Faktor yang sangat mempengaruhi  tabungan masyarakat berikutnya adalah inflasi. Inflasi ialah suatu keadaan dimana senangtiasa terjadi menigkatnya harga-harga atau suatu keadaan dimana terjadinya penurunan daripada nilai uang yang beredar didalam masyarakat sehingga untuk menghindari keadaan ini akan mengambil jalan pintas dengan mengubah uang kasnya  menjadi barang, yakni dengan cara membelanjakan uang kas untuk membeli barang-barang konsumsi, ini berarti akan mengakibatkan permintaan barang-barang dan selanjutnya akan meningkat pula harga barang, oleh karena itu walaupun masyarakat memegang banyak uang namun uang tersebut akan cepat habis karena harga riil daripada barang-barang yang tersedia di pasar juga meningkat, sehingga uang tersebut hanya dapat dugunakan oleh setiap orang untuk mengkonsumsi barang-barang daripada hasrat atau keinginan untuk menabung. Realitas ini akan mempengaruhi daya tabung masyarakat, jadi tingkat tabungan akan menurun karena dana masyarakat cenderung digunakan untuk mengkonsumsi barang.

Tingkat bunga dan inflasi bersama-sama sangat mempengaruhi masyarakat untuk dapat meningkatkan tabungan. Hal ini dapat kita amati pada kehidupan sehari-hari masyarakat yang selalu mencari informasi mengenai tingkat bunga yang tercipta didalam pasar uang, apabila mereka mengetahui bahwa tingkat bunga yang lebih tinggi maka masyarakat akan lebih mengurangi pengeluarannya untuk mengkonsumsi guna menambah tabungan mereka karena masyarakat mempunyai harapan bahwa uang mereka akan bertambah pada bulan atau tahun berikutnya daripada mereka harus menyimpang uang dirumah. Dan sebaliknya apabila tingkat suku bunga menurun maka masyarakat akan mengurangi tabungan. Hal ini serupa dengan inflasi, apabila inflasi semaking meningkat masyarakat akan menambah permintaan terhadap barang konsumsi, jadi akan menyebabkan  tabungan menurun dan sebaliknya apabila kedua faktor tersebut diatas sama-sama terjadi yaitu tingkat suku bunga menurun dan inflasi meningkat maka akan menyebabkan daya tabung masyarakat semakin menurun.

Masyarakat Timor Leste cenderung menabung uangnya di lembaga keuangan  Mikro Financa karena mereka merasa memperoleh keuntungan lewat bunga yang diberikan oleh bank kepada nasabah-nasabah yang menabung uangnya di lembaga keuangan mikro financa. Disamping bunga yang diberikan oleh bank kepada nasabah, bank juga menjamin keaman uang nasabah dan memberikan kemudahan atau fasilitas kepada nasabah sewaktu-waktu bila mereka mengambil kembali uang mereka pada saat mereka membutuhkan uang tersebut untuk keperluannya.

Mikro financa menawarkan bunga sebesar 0.5% pertahun kepada nasabah yang melakukan tabungan biasa, sedangkan nasabah yang melakukan tabungan berjangka atau deposito umumnya lembaga keuangan mikro financa memberikan tingkat suku Bunga 0.7% pertahun. Bunga seperti tersebut diatas baik bunga tabungan biasa maupun bunga tabungan berjangka atau deposito diberikan untuk meransang para nasabah untuk melakukan tabungan di lembaga keuangan mikro financa.

 Berdasarkan uraian diatas maka penulis cenderung mengambil judul “Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Inflasi Terhadap Minat Menabung Masyarakat dilembaga keuangan mikro financa”.

1.2.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis dapar merumuskan masalah sebagai berikut:

v  Adakah pengaruh antara tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara parsial terhadap terhadap minat menabung masyarakat?

v  Adakah pengaruh antara tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara simultan terhadap terhadap minat menabung masyarakat?

1.3.Pembatasan Masalah

Adapun pembatasan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

v  Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara parsial terhadap minat menabung masyarakat.

v  Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara simultan terhadap minat menabung masyarakat.

1.4.Tujuan Penelitian

v  Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara parsial terhadap minat menabung masyarakat.

v  Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara simultan terhadap minat menabung masyarakat.

1.5. Manfaat Penelitian

  1. Bagi pihak manajer perusahaan.

Hasil penelitian ini akan dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi pihak perusahaan atau sebagai sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak terkait pada perusahaan.

  1. Bagi akademisi

Hasil penelitian ini akan dijadikan sebagai bahan referensi bagi para mahasiswa berikutnya sekaligus menjadi bahan komparasi untuk penelitian sejenis.

  1. Bagi Penulis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan atau menambah pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas mengenai masalah yang diteliti.

1.6. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara atas masalah yang diteliti, jadi hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut

v Adanya pengaruh yang signifikan antara tingkat suku bunga dan tingkat inflasi terhadap minat menabung masyarakat.

 

1.7.          Sistematika Penulisan

  1. BAB I Pendahuluan mencakup uraian tentang latar belakang masalah, perumusahn masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
  2. BAB II menyangkut tinjauan pustaka yang berlandaskan pada berbagai pengertian dari ketiga variable serta pada teori-teori yang masih memiliki hubungan sesuai dengan judul penelitian.
  3. BAB III mengenai metodologi penelitian yang mencakup metode penelitian, Jenis Data peneltian, tempat dan waktu penelitian, variabel penelitian, definisi operasional, populasi dan sampel, alat pengumpulan data dan teknik analisis data.


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tingkat Suku Bunga

Pengertian tingkat bunga berdasarkat teori Keynes (Teori Liquidity Preference)

Tingkat bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan uang, menurut teori ini keinginan untuk memegang uang ada tiga motif (transaksi, berjaga-jaga dan berspekulasi) atau liquidity preference. Teori ini merupakan turunan dari teori permintaan akan uang dari Keynes sendiri. Permintaan uang menurut Keynes berdaarkan pada konsepsi bahwa orang pada umumnya menginginkan dirinya tetap liquid untuk memenuhi tiga motif tersebut, preference atau keinginan untuk tetap liquid inilah yang membuat orang bersedia membayar dengan harga atau tingkat bunga tertentu untuk penggunaan uang. Kaum Keynesian lebih menekan sifat uang sebagai satu aktiva yang liquid yang bisa digunakan untuk mengatakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari surat berharga.

Teori ini selalu mengatakan bahwa kurva hasil selalu mempunyai lereng (slope), artinya tingkat bunga pertahun untuk pinjaman yang berjangka lebih pendek (Budiono, Ekonomi Moneter, hal 82)

Menurut Karl dan Fair (2001:635) Suku bunga adalah Pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima setiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.

Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu

Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah:

  1. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.
  2. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sector industry apabila perusahaan-perusahaan dari industry tersebut akan meminjam dana, maka pemerintah memberi tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sector lain.
  3. Pemerintah dapat memamfaatkan suku bunga untuk mengontrol uang yang beredar.

2.1.1. Perhitungan tingkat suku bunga

            Menurut Dendawijaya Lukman (2001:105) dalam industry perbankan yang sangat kompetitif, penentuan tingkat bunga kredit menjadi suatu alat persaingan yang sangat strategis. Besar kecilnya bunga bunga kredit sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya bunga simpanan, semakin besar atau semakin mahal bunga simpanan, maka semakin besar pula bunga pinjaman  dan demikian pula sebaliknya. Disamping bunga pinjaman, pengaruh besar kecilnya bunga pinjaman juga dipengaruhi oleh komponen-komponen pokok dalam penentuan tingkat bunga kredit. Bank-bank yang mampu mengendalikan komponen-komponen pokok dalam penentuan tingkat bunga kredit (lending rate) akan mampu menentukan tingkat bunga kredit yang lebih rendah dibandingkan dengan bank-bank lainnya.

            Menurut Dendawijaya Lukman, dalam bukunya (2001:105) komponen-komponen yang menentukan tingkat bunga kredit adalah sebagai berikut:

  1. COLF

Sebagaimana diuraikan diatas, perhitungan COLF ini berturut-turut adalah sebagai berikut:

-          Menetapkan tingkat bunga yang akan dibayarkan kepada deposan

-          Menghitung komposisi sumber dana

-          Memperhatikan ketentuan tentang giro wajib minimum (GWM)

-          Menghitung biaya dana efektif dengan rumus

Bunga efektif 100%           x Tingkat Suku Bunga

                        100% – RR

-          Menghitung Kontribusi dana dengan rumus:

Kontribusi biaya dana = komposisi dana x biaya dana efektif

-          Menjumlahkan seluruh kontribusi biaya dana untuk memperoleh tingkat COLF

  1. Overhead Cost

Banyak konsep dan pendapat yang dianut oleh praktisi perbankan mengenai overhead cost. Salah satu konsep overhead cost diartikan sebagai seluruh biaya (diluar bunga) yang dikeluarkan oleh bank didalam menjalankan kegiatan lebih lanjut diangap bahwa menanggung biaya-biaya tersebut adalah seluruh aktiva bank yang menghasilkan pendapatan (Total earning asset).

Oleh karena itu formula overhead cost ditulis sebagai berikut:

Overhead cost = Total biaya (non bunga) x 100%

                            Total earning asset

Besarnya persentase overhead cost tiap-tiap bank berbeda antar bank yang satu dengan bank lainnya. Hal ini sangat tergantung dari efisien suatu bank didalam mengontrol biaya-biaya serta kemampuan bank didalam memperluas akan cenderung mempunyai overhead cost yang rendah dengan asumsi terdapat pengendalian biaya dalam standard yang normal pada bank tersebut. Perhitungan overhead cost antara 2% – 4%.

  1. Risk Faktor

Penentuan risk faktor sebagai komponen tingkat suku bunga kredit lebih bersifat taktis didalam upaya memperbesar pendapatan bank umum. Penentuan besarnya presentase RR terhada lending rate ditujukan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya resiko kredit, selain itu perbankan juga berusah untuk menekan tingkat risk faktor sebagai komponen lending rate dalam upaya memperbesar pendapatan dan menghadapi persaingan dalam industry perbankan.

Risk faktor yang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Risk Faktor = Biaya penyisihan cadangan penghapusan kredit  x 100%

                                    Total kredit yang diberikan

  1. Spread

Merupakan pendapatan bank yang pokok, yang akan menentukan berapa besarnya pendapatan perusahaan (net income) bank.  Besarnya net margin bervariasi atau tergantung dari value kredit bank. Semakin besarnya value kredit maka spread dapat diusahakan semakin rendah. Hal ini dikarenakan bank akan cenderung untuk mengejar omzet penjualan kredit untuk mendapatkan nilai absolut pendapatan bersih usaha.

Pemilihan strategis spread kearah yang tinggi atau pun rendah sangat tergantung dari pangsa pasar (target market) yang ingin direbut oleh bank tersebut dengan melakukan menganalisis dari persentase bank yang sekelas ataupun rata-rata industry. Pada umumnya bank menetapkan spread 2 – 3% p.a akan merupakan harga yang layak sebagai komponen dari lending rate.

  1. Pajak

Pajak merupakan kewajiban yang dibebankan pemerintah kepada bank yang memberikan fasilitas kredit kepada nasabahnya.. pembebanan pajak sebagai komponen dari penentuan tingkat bunga kredit (lending rate) dapat dibebankan penuh atau sebagian, tergantung pada kebijakan bank yang bersangkutan dalam menghadapi persaingan.

            Bunga atau riba adalah penambahan, perkembangan , peningkatan dan pembesaran yang diterima pemberi pinjaman dari peminjam dari jumlah pinjaman pokok  sebagai imbalan karena menangguhkan atau berpisah dari sebagian modalnya selama periode waktu tertentu. Secara umum riba adalah pengambilan tambahan yang harus dibayarkan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam yang bertentangan dengan prinsip syariah (Sudarsono, dalam Rad it ya; 2007)

2.1.2. Teori klasik tentang tingkat bunga: Loanable funds

Tabungan menurut teori klasik (teori yang dikemukakan kaum klasik seperti Adam Smith, David Ricardo, dll) adalah fungsi dari tingkat bunga, makin tinggi bunga, maka makin tinggi pula keingginan masyarakat untuk menyimpan dananya dibank. Artinya, pada tingkat bunga yang lebih tinggi, masyarakat akan terdorong untuk mengorbankan atau mengurangi pengeluaran untuk berkonsumsi guna menambah tabungan. Sedangkan bunga adalah harga dari (penggunaan) loanable funds, atau bisa diartikan sebagai dana yang tersedia untuk dipinjamkan atau dana investasi, karena menurut teori klasik bunga adalah harga yang terjadi dipasar investasi. Investasi juga merupakan tujuan dari tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga (tingkat bunga kredit), maka keingunan untuk melakukan investasi juga semakin kecil. Alasannya, seorang pengusaha akan menambah pengeluaran invesinya apabila keuntungan yang diharapkan dari investasi tersebut lebih besar dari tingkat bunga yang harus dibayarkan untuk dana investasi tersebut sebagai ongkos untuk penggunaan dana (cost of capital). Makin rendah tingkat bunga, maka pengusaha akan mendorong untuk melakukan investasi, sebab biaya penggunaan dana juga semakin kecil. Tingkat bunga dalam keadaan keseimbangan (artinya tidak ada dorongan untuk naik atau turun) akan tercapai apabila keinginan menabung masyarakat sama dengan keinginan pengusaha untuk melakukan investasi.

            Suku bunga adalah pendapatan (bagi kreditor) atau beban bagi (debitor) yang diterima atau dibayarkan oleh kreidtor atau debitor (Madura, 2003). Menurut Kamus lengkap ekonomi (2000,p.693), suku bunga (interest rate) adalah kompensasi yang dibayar peminjam dana kepada kepada yang meminjam. Bagi peminjam, suku bunga merupakan biaya pinjaman atau harga yang dibayar atas uang yang dipinjamkan, yang merupakan tingkat pertukaran dari konsumsi sekarang untuk konsumsi masa mendatang. Biasanya diekspresikan sebagai persentase pertahun yang dibebankan atas uang yang dipinjam atau dipinjamkan.

2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi suku bunga

            Beberapa faktor dalam ekonomi yang dapat mempengaruhi pergerakan suku bunga, yaitu (Madura 2003):

-          Pertumbuhan ekonomi

Pada saat perusahaan melakukan ekspansi, akan diperlukan uang sehingga permintaan akan uang semakin meningkat. Perusahaan yang melakukan ekspansi ini tak lepas dari kondisi perekonomian yang mendukung (kondisi perekonomian baik). Pada saat kondisi perekonomian baik, maka tingkat suku bunga meningkat. Sebaliknya, pada saat kondisi ekonomi buruk, maka perusahaan akan merubah strategi pembelanjaannya menjadi penggunaan modal sendiri sehingga tidak ada permintaan akan uang (permintaan menurun). Permintaan akan uang yang menurun menyebabkan tingkat suku bunga turun.

-          Adanya inflasi

Saat tingkat inflasi suatu Negara meningkat maka tingkat suku bunga juga akan semakin menigkat, karena pada saat terjadi inflasi akan diikuti dengan naiknya harga barang dan diperkirakan dimasa depan harga barang akan naik lagi (expected inflation rate) sehingga masyrakat banyak yang akan membeli barang-barang sekarang. Dengan melakukan pembelian maka dana yang dimiliki masyarakat berkurang sehingga muncul permintaan akan uang. Naiknya permintaan akan uang menyebabkan tingkat suku bunga meningkat.

-          Defisit anggaran pemerintah

Defisit anggaran merupakan suatu kondisi dimana pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Untuk menutupi deficit, maka pemerintah melakukan peminjaman sehingga hal ini dapat menyebabkan tingkat suku bunga meningkat dan sebaliknya.

Tingkat suku bunga yang tinggi akan menyebabkan investor menarik investasi sahamnya dan memindahkannya pada investasi yang menawarkan tingkat pengembalian lebih baik dan aman, seperti deposito. Akibat  aksi para investor yang menarik sahamnya menyebabkan pasar modal sepi. Turunnya permintaan akan saham mengakibatkan terjadinya kelebihan penawaran saham, sehingga harga-harga saham turun dan akan menyebabkan indeks harga saham gabungan juga turun (Samsul 2006).

2.2. Tingkat Inflasi

Teori Kuantitas tentang Inflasi (klasik)

Teori kuantitas merupakan teori yang paling tertua yang pernah ada mengenai inflasi. Teori ini mengatakan bahwa inflasi itu bisa terjadi jika ada penambahan volume uang yang beredar. Gampangnya begini, Jika ada Cuma 1kg beras dan Cuma ada duit 1 dollar maka harga 1kg beras seharga 1 dollar, seandainya penambahan lagu duit 2 dollar maka harganya bisa menjadi 2 dollar.

Menurut teori ini inflasi bakalan berhenti sendirinya jika jumlah uang tidak ditambah.

Menurut Keynes inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi menurut pandangan ini tidak lebih adalah proses perebutan pendapatan diantara kelompok-kelompok social yang menginginkan bagian yang lebih besar  dari pada bagian yang dapat diselesaikan oleh masyarakat. Kelompok-kelompok social ini misalnya orang-orang pemerintahan sendiri, pihak swasta atau juga serikat buruh yang berusaha mendapatkan kenaikan gaji atau upah, dimana hal ini dapat berdampak terhadap permintaan barang dan jasa yang pada akhirnya akan menaikan harga. (Budiono, Ekonomi Moneter, hal 169).

Teori Inflasi Moneterisme

Teori ini berpendapat bahwa, inflasi disebabkan oleh kebijakan moneter dan fiscal yang expansif, sehingga jumlah uang beredar di masyarakat akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan barang dan jasa di sector riil. Menurut golongan moneteris, inflasi dapat diturunkan dengan cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiscal yang bersifat kontraktif atau melalui control terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap subsidi nilai tukar valuta asing.

Teori Ekspektasi

Menurut Dornbusch, bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logic untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada.

Inflasi adalah suatu kondisi dimana tingkat harga meningkat secara terus menerus (Mishkin 2001,p.11). Menurut Bodie, kane dan Marcus (2001,p.331) inflasi merupakan suatu nilai dimana tingkat harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan.

Menurut Pohan, inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga yang terjadi secara terus menerus dan kenaikan harga terjadi pada seluruh kelompok barang dan jasa (2008,p.158). Laju inflasi merupakan gambaran harga-harga. Harga yang membumbung tinggi tergambar dalam inflasi yang tinggi. Sementara itu, harga yang relatif stabil tergambar dalam angka inflasi yang rendah (Pohan,2008,p.52)

Sedangkan menurut Samuelson   dan Nordhaus (2001), tingkat inflasi adalah kenaikan presentase tahunan dalam tingkat harga umum yang diukur berdasarkan indeks harga konsumen atau indeks harga lainnya. Dapat kita simpulkan bahwa bila yang naik hargayna hanya satu barang saja maka bukan inflasi, tetapi bila kenaikan itu mengakibatkan harga barang atau jasa yang lain juga naik maka disebut inflasi.

2.2.1. Jenis-jenis inflasi menurut faktor-faktor penyebabnya

            Menurut Samuelson dan Nordhaus (2001,p.692) dua kekuatan pokok dalam perekonomian yang dapat menyebabkan inflasi adalah sebagai berikut:

-          Demand – Pull Inflation

Inflasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (aggregate demand) yang melebihi jumlah yang bisa dihasilkan oleh suatu perekonomian, sedangkan produksi berada pada keadaan penggunaan tenaga kerja penuh. Dalam keadaan tersebut jumlah uang yang dimiliki masyarakat akan berhadapan langsung dengan jumlah penawaran barang terbatas. Akibatnya adalah harga-harga akan mengalami kenaikan.

-          Cost – Push Inflation

Inflasi ini biasanya ditandai dengan kenaikan harga serta turunnya produksi. Keadaan ini timbul biasanya dimulai dengan adanya penurunan total (aggregate supply) sebagai akibat kenaikan biaya produksi. Kenaikan biaya produksi ini dapat timbul karena beberapa faktor, diantaranya yaitu adanya kenaikan upah buruh, industry yang bersifat monopolistis (dimana penguasa memiliki kekuasaan untuk menentukan harga), serta karena adanya kenaikan harga bahan baku industry.

2.2.2. Bentuk – bentuk inflasi

            Menurut Samuelson dan Nordhaus (2001,p.678) inflasi dibedakan dalam tiga kategori pokok, yaitu:

-          Inflasi Moderat

Bentuk inflasi ini terjadi ketika harga-harga barang dan jasa meningkat secara perlahan-lahan. Inflasi ini dikatakan moderat apabila angkanya masih berada dibawah 10% pertahun. Dalam situasi inflasi moderat dan stabil, harga-harga barang dan jasa relatif tidak akan bergerak jauh menyimpang.

-          Inflasi Ganas (Galloping Inflation)

Bentuk inflasi ini terjadi ketika harga-harga mulai melonjak 20, 100 hingga 200 persen setahun artinya inflasi ini ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (biasanya double digit atau triple digit), inflasi ini sering disebut dengan inflasi dua/tiga/digit.

-          Hiperinflasi (Hyperinflation)

Bentuk inflasi ketiga yang paling mematikan ini ditandai dengan meningkatnya harga-harga barang dan jasa hingga berlipat-lipat kali.

            Berdasarkan penelitian empiris diketemukan adanya fakta bahwa inflasi memiliki korelasi negative dengan harga saham (Widoatmojo, 1995). Hal ini berarti jika tingkat inflasi naik maka harga saham akan turun dan sebaliknya. Meningkatnya laju inflasi akan menyebabkan para investor engan untuk menginvestasikan dananya dalam bentuk saham, mereka cenderung untuk memilih investasi dalam bentuk logam mulia atau real state dimana investasi jenis ini dapat melindungi investor dari kerugian yang disebabkan inflasi ( Winger 1992). Maka dapat disimpulkan bahwa tingkat inflasi akan mempengaruhi harga saham yang berarti juga ikut mempengaruhi indeks harga saham gabungan.

            Dalam situs http://peminataniesppembangunan.blogspot.com/ dijelaskan banyak pengertian inflasi yang disampaikan para ahli. Inflasi menurut A.P. Lehnerinflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan. Ahli yang lain yaitu  Ackley menberi pengertian inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat).

            Menurut Boediono, inflasi sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain.

2.2.3. Kebijana yang dapat diambil untuk menghadapi inflasi

            Inflasi tentunya harus diatasi dan untuk mengatasinya dapat dilakukan pemerintah dan otoritas moneter dengan cara melakukan beberapa kebijakan yang menyangkut bidang moneter, fiscal dan non moneter. Adapun kebijakan tersebut akan diuraikan dibawah ini:

-          Kebijakan moneter adalah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang beredar. Penyebab inflasi diantara jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga dengan kebijakan ini diharapkan junlah uang yang beredar dapat dikurangi menuju kondisi normal. Untuk menjalankan kebijakan ini bank indonesia menjalankan beberapa politik/kebijakan yaitu politik diskonto, politik pasar terbuka dan menaikkan cash ratio.

  • Politik Diskonto ditujukan untuk menaikan tingkat bunga karena dengan bunga kredit tinggi maka aktivitas ekonomi yang menggunakan dana pinjaman akan tertahan karena modal pinjaman menjadi mahal.
  • Politik Pasar terbuka dilakukan dengan cara menawarkan surat berharga ke pasar modal. Dengan cara ini diharapkan masyarakat membeli surat berharga tersebut seperti SBI yang memiliki tingkat bunga tinggi dan ini merupakan upaya agar uang yang beredar di masyarakat mengalami penurunan jumlahnya.
  • Cash Ratio artinya cadangan yang diwajibkan oleh bank sentral kepada bank-bank umum yang besarnya tergantung kepada keputusan dari bank sentral atau pemerintah. Dengan jalan menaikkan perbandingan antara uang yang beredar dengan uang yang mengendap didalam kas mengakibatkan kemampuan bank untuk menciptakan kredit berkurang sehingga jumlah uang yang beredar akan berkurang.

-          Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang berhubungan dengan finansial pemerintah. Bentuk kebijakan ini antara lain:

  • Pengurangan pengeluaran pemerintah, sehingga pengeluaran keseluruhan dalam perekonomian bisa dikendalikan.
  • Menaikkan pajak, akan mengakibatkan penerimaan uang masyarakat berkurang dan ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang menurun dan tentunya permintaan akan barang dan jasa yang bersifat konsumtif tentunya berkurang.

-          Kebijakan non moneter dapat dilakukan dengan cara menaikkan hasil produksi, kebijakan upah dan pengawasan harga dan distribusi barang.

  • Menaikkan hasil produksi, cara ini cukup efektif mengingat inflasi disebabkan oleh kenaikan jumlah barang konsumsi tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu pemerintah membuat prioritas produksi atau memberi bantuan (subsidi) kepada sector produksi bahan bakar, produksi beras.
  • Kebijakan Upah, tidak lain upaya mengstabilkan upah/gaji, dalam pengertian bahwa upah tidak sering dinaikkan karena kenaikan yang relatif sering dilakukan akan dapat meningkatkan daya beli dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan dan pada akhirnya akan menimbulkan inflasi.
  • Pengawasan harga dan distribusi barang dimaksudkan agar harga tidak terjadi kenaikan, hal ini seperti yang dilakukan pemerintah dalam menetapkan harga tertinggi (harga eceran tertinggi)

 

2.3. Minat Menabung

Menurut Edward W. Reed dan K. Gill (1995) yang memperngaruhi nasabah dalam menabung adalah kemamfatan, lokasi, pelayanan dan tingkat suku bunga. Lokasi suatu bank akan mempengaruhi kelancaran dari usaha tersebut

Menurut Fred Selnes (1993) bahwa pada bisnis-bisnis industry dan jasa, nama (merk) lebih sering dihubungkan dengan reputasi perusahaan dari pada dengan produk atau jasa itu sendiri. Karena itu salah satu pertimbangan nasabah dalam menabung di bank adalah reputasi perusahaan tersebut di mata nasabahnya. Karena kepercayaan merupakan salah satu faktor utama bagi nasabah untuk mempercayakan uangnya ditabung atau diinvestasikan pada bank tersebut.

Pendapat kaum ekonomi klasik tentang tabungan.

Tabungan menurut teori klasik merupakan fungsi dari tingkat bunga sehingga makin tinggi tingka bunga makin tinggi pula keingan masyarakat akan lebih terdorong untuk mengorbankan atau mengurangi pengeluaran untuk konsumsi guna menambah tabungan dan sebaliknya apabila tingkat bunga makin rendah atau tidak ada sama sekali maka tidak terdorong keinginan masyarakat untuk menabung di Bank (Nopirin Phd, Ekonomi Moneter I, hal 70)

Pengertian tabungan menurut Undang-undang perbankan no 10 tahun 1998 adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Tujuan menabung di bank adalah:

-          Penyisihan sebagian hasil pendapatan nasabah untuk dikumpulkan sebagai cadangan hari depan.

-          Sebagai alat untuk melakukan transaksi bisnis.

Sarana penarikan tabungan:

-          Buku tabungan

-          Slip penarikan

-          ATM (anjungan tunai mandiri)

-          Sarana lainnya (Formulir transfer, Internet banking, Mobile banking, dll)

Perhitungan bunga tabungan:

-          Metode saldo terendah. Besarnya bunga tabungan dihitung dari jumlah saldo terendah pada bulan laporan dikalikan dengan suku bunga pertahun kemudian dikalikan dengan jumlah hari pada bulan laporan dan dibagi dengan jumlah hari dalam satu tahun.

Misalnya untuk menghitung bunga pada bulan Mei, maka besarnya bunga dihitung: Bunga tabungan = ….%* 31/365* saldo terendah pada bulan Mei.

-          Metode perhitungan bunga berdasarkan saldo rata-rata. Pada metode ini, bunga dalam satu bulan dihitung berdasarkan saldo rata-rata dalam bulan berjalan. Saldo rata-rata dihitung berdasarkan jumlah saldo akhir tabungan setiap hari dalam bulan berjalan, dibagi dengan jumlah hari dalam bulan tersebut.

-          Metode perhitungan bunga berdasarkan saldo harian. Pada metode ini bunga dihitung dari saldo harian. Bunga tabungan dalam bulan berjalan dihitung dengan menjumlahkan hasil perhitungan bunga setiap harinya.

Faktor-faktor tingkat tabungan:

-          Tinggi rendahnya pendapatan masyarkat

-          Tinggi rendahya suku bunga bank

-          Adanya tingkat kepercayaan terhadap bank.

(Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas http://id.wikipedia.org/wiki/tabungan)

 

            Menurut Lukman Dendawijaya (2003;58) pengertian tabungan yaitu:

Tabungan adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.

2.3.1. Jenis-Jenis Tabungan

            Dalam aspek perbankan di Indonesia dewasa ini terdapat beberapa jenis tabungan. Perbedaan ini hanya terletak pada fasilitas yang diberikan kepada penabung. Dengan demikian penabung mempunyai banyak pilihan. Jenis-jenis yang dimaksud adalah:

-          Tabungan Pembangunan Nasional

Yaitu bentuk tabungan yang tidak terkait oleh jangka waktu dengan syrat penyorotan dan pengambilan yang untuk pertama kalinya diatur pada tahun 1971. Tabanas terdiri dari:

  • Tabanas Umum, yaitu tabanas yang berlaku bagi perorangan dilaksanakan secara sendiri-sendiri oleh pihak penabung bersangkutan.
  • Tabanas Pemuda, Pelajar dan Pramuka (Tapelpram), yaitu tabungan khusus yang dilaksanakan secara kolektif melalui organisasi pemuda, sekolah dan satuan pramuka.
  • Tabanas Pegawai, yaitu tabanas khusus para pegawai dari semua golongan kepangkatan secara kolektif.

-          Tabungan Asuransi Berjangka (Taska), yaitu bentuk tabungan dengan asuransi jiwa.

-          Tabungan Ongkos Naik Haji (ONH), yaitu setoran ongkos naik haji atas nama calon Jemaah haji untuk setiap musim haji.

2.3.2. Peranan Tabungan

            Dalam suatu bank, tabungan mempunyai peranan penting yaitu sebagai sumber dana bank. Dimana dana tersebut akan menentukan volume dana yang akan dipertimbangkan oleh pihak bank tersebut dalam bentuk penanaman dana yang menghasilkan, misalnya dalam bentuk pemberian kredit yang diberikan kepada masyarakat dalam jangka waktu tertentu.

            Bank yang menyediakan fasilitas tabungan dengan tujuan untuk mendapatkan kepercayaan diri masyarakat sebagai nasabah untuk mengelola dananya, dengan adanya kepercayaan tersebut maka bank akan dengan mudah menarik banyak nasabah.

            Tabungan sangat berperan penting dalam perbankan sehingga apabila tabungan menigkat maka sumber dana pada bank akan naik demikian juga dengan laba yang diperoleh dari pendapatan bunga akan meningkat pula.

Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2001:83) Tabungan lainnya adalah semua tabungan pihak ketiga kepada bank yang administrasi pembukuannya dilakukan dalam buku tabungan, menabung dan penarikan tabungan dilakukan dengan slip tabungan dan slip penarikan yang telah disediakan oleh bank.

2.3.3. Produk Penghimpunan Dana Bank

            Salah satu aktivitas bank adalah menghimpun dana dari masyarakat. Berdasarkan ketentuan pasal 1 UU No. 7 tahun 1992 yang dirubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan, Jenis dana yang dapat dihimpun oleh bank adalah sebagai berikut:

-          Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menerbitkan cek untuk penarikan tunai atau bilyet giro untuk pemindahbukuan.

-          Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu sesuai tanggal yang diperjanjikan antara deposan dan bank.

-          Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan syarat tertentu yang disepakati dan tidak dengan cek atau bilyet giro atau alat lain yang dipersamakan dengan itu.

-          Serifikat deposito adalah deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperjualbelikan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1         Metode Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang data yang berbentuk angka-angka yang dapat dihitung, dimana dalam perhitungan ini menghitung seluruh nasabah yang melakukan tabungan di lembaga mikro financa dan suku bunga yang ditawarkan kepada para nasabah. Kemudian data kualitatif adalah mencari tahu kenaikan harga barang.

3.2         Jenis Data Penelitian

3.2.1. Data Primer

Data primer yaitu pengedaran kuesioner untuk memperoleh informasi seberapa besar peningkatan harga barang/inflasi di pasar.

3.2.2. Data Sekunder

Jenis penelitian ini adalah mengolah data sekunder atau data yang sudah tersedia di bank mikro financa yaitu jumlah orang yang melakukan tabungan dan suku bunga yang disediakan oleh lembaga keuangan Mikro financa

3.3         Tempat dan waktu penelitian

Dalam penulisan proposal ini lokasi penelitian adalah lembaga mikro financa dan pasar Comoro Distrik Dili Timor Leste.

Penelitian akan dilakukan apabila proposal ini disetujui.

3.4         Variabel Penelitian

Ada dua variable dalam penelitian ini yaitu:

  1. Variabel independent (Variabel bebas) dimana terdapat dua yaitu:

-          Variabel Tingkat suku bunga (X1)

-          Variabel Tingkat Inflasi (X2)

  1. Variabel dependent (variable terikat) yaitu:

Variabel Minat Menabung Konsumen (Y)

3.5         Definisi Operasional Variabel Penelitian

3.5.1        Tingkat suku bungan

Bunga atas uang nasabah yang digunakan pihak lain dan sebagai balas jasa uang nasabah adalah bunga yang diberikan oleh pihak lembaga keuangan kepada nasabah   

3.5.2        Inflasi

Peningkatan tingkat harga umum dari barang dan jasa dalam periode tertentu atau suatu keadaan dimana harga barang-barang secara umum mengalami kenaikan.

3.5.3        Minat menabung

Keinginan besar dari nasabah yang tinggi untuk melakukan tabungan atau sebaliknya

3.6         Populasi dan Sampel

3.6.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek  yang mempunyai dan karakteritik tertentu yang ditetapkan  sebagai populasi jumlah yang ada pada obyek penelitian.

3.6.2. Sampel

Mengingat akan masalah waktu maka tidak semua populasi yang ada dilakukan penelitian, maka penulis cenderung mengambil bagian dari populasi yang ada yang disebut sebagai sampel dengan menggunakan system acak.

3.7         Alat Pengumpulan dan teknik analisis data

3.7.1        Alat pengumpulan data

  1. Kuesioner

Prosedur ini dilakukan dengan memberikan beberapa lembar daftar pertanyaan kepada para responden di lokasi penelitian

  1. Wawancara

Prosedur ini dilaksanakan secara langsung dengan mewawancarai para responden dengan berpedoman pada pertanyaan yang telah disediakan.

  1. Observasi

Prosedur ini dilakukan dengan mengamati secara langsung di lokasi penelitian.

  1. Dokumentasi

Prosedur ini dilakukan dengan mencatat data-data kejadian serta memperoleh salinan, baik yang berupa tulisan, laporan, arsip serta berkas-berkas yang dipandang mempunyai hubungan dengan masalah yang diteliti.

3.7.2        Teknik Analisis data

Teknik yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini dengan maksud untuk mendapatkan pengaruh dua variable prdikator dengan variable ariteriumnya.

3.7.2.1   Untuk mengetahui besarnya pengaruh antara dua variable bebas secara bersama-sama terhadap variable tergantung dengan menggunakan rumus persamaan regresi linear berganda. Menurut Dr. Djawanto PS dan Drs. Pangestu Subayo, (1993:309)

Y= a + b1X1 + b2X2

Keterangan:

Y                     = Variabel terikat (nilai duga Y)

X1, X2              = Variabel bebas

a, b1, b2                = Koefisien regresi linear berganda

3.7.2.2   Rumus korelasi product moment

3.7.2.3   Rumus Korelasi linear berganda

3.7.2.4   Rumus Koefisien determinasi

About these ads

Mei 26, 2011 - Posted by | Uncategorized

5 Komentar »

  1. sangat membantu :)

    Komentar oleh rizka | September 28, 2011 | Balas

  2. membantu banget nih kalo bisa minta daftar pustakanya buar referensi.

    Komentar oleh tania | Desember 5, 2011 | Balas

  3. suatu topik yang cukup menarik.

    Komentar oleh Rosario | Desember 16, 2011 | Balas

  4. kak minta daftar pustakanya dong……….. buat referensi

    Komentar oleh eza | Mei 28, 2012 | Balas

    • Daftar Pustaka

      – Dr. Dudiono, 1985. Ekonomi Moneter, Edisi 3 BPFE Yogyakarta.
      – Drs. M. Manulang, 1980, Ekonomi Moneter Cetakan ke-6 Ghalia Indonesia.
      – Norpirin, Phd. 1992, Ekonomi Moneter, Buku I. BPFE Yogyakarta.

      Komentar oleh dodogusmao | Mei 28, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: